Stories
Temanku dari Sabang sampai Merauke“Om, terima kasih ya,” ucap Fira kepada bapak yang setiap hari menjemput dan mengantarnya ke sekolah. Fira pun bergegas ingin bertemu dengan ibunya, “Assalamu'aikum, Bu, Fira pulang,” “Wa'alaikum salam,” s... READMORE |
|
More in: Cerita |
Kalender Pendidikan
Kalender Akademik SIT Al-Furqon 2010/201PGIT / TKIT Maret 2010 5 : Renang / Gardening 1.3 12 : Renang / Gardening 2.3 15 - 25: Pekan Tematik 19 : Renang / Gardening 3.3 26 : Pameran Petik April 2010 2 : Renang / ... READMORE |
|
More in: Kalender Pendidikan |
Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 311
Web Links : 140
Content View Hits : 390367
| Perjalanan ke Puncak Dempo |
|
|
| Special Events |
| Written by admin01 |
| Wednesday, 07 January 2009 20:49 |
|
Suka Duka Perjalanan ke Dempo Civitas SIT Al Furqon Palembang tanggal 30 Desember 2008 hingga 1 Januari 2008 mengadakan rihlah ke Gunung Dempo. Tujuan dari kegiatan ini tidak untuk bersenang-senang melainkan dalam rangka tafakur ilallah, melihat kebesaran Allah yang tergores dalam ciptaanNya di Gunung Dempo. Dengan beranggotakan 14 guru putra (ustadz) berangkat bersama tujuh guru putri (bunda) yang kebetulan ingin rihlah juga di daerah Pagaralam dan Sungai Lematang. ![]() Tanggal 30 Desember 2008 bada Ashar diadakan acara pelepasan di halaman sekolah yang dilepas oleh Direktur Sekolah bapak H.Emil Rosmali,SE.,MM. Beliau memberikan taujih bahwa ketika mengadakan perjalanan ini luruskan niat, jauhkan kesombongan dan saling menjaga satu dengan lainnya. Kalian kalau pergi lengkap maka pulangpun harus lengkap, lanjut beliau dalam arahannya. Kegiatan pelepasan ini diakhiri dengan doa yang dilantunkan oleh ustadz Sunyoto. Dalam doa beliau menyebutkan agar hati para guru yang sedang melakukan rihlah ini tertaut dalam ikatan iman dan tauhid, sebagaimana dalam salah satu bait doa Rabithah. Selesai acara pelepasan diadakan foto kenangan pelepasan sekaligus memperkenalkan satu wadah bagi pencinta alam yang ada di SIT Al Furqon Palembang yang bernama Civitas SIT Al Furqon Pencinta Alam (CAFTA). Wah...ada yang protes mengenai namanya lho... (ah apalah arti sebuah nama). Tepat lebih kurang pukul 17, rombongan berangkat dengan naik kendaran bus carteran Melati Indah (ini bukan promosi ya). Dalam perjalanan lancar tanpa hambatan sedikitpun dan diselingi dengan canda khas bunda atau ustadz yang masih ... (disensor). Rombongan istirahat sholat Maghrib di jama qashar di RM Cambai Prabumulih sekaligus isi bensin untuk orangnya alias makan malam. Waduh makannya dijatah ya...sesuai dengan anggaran dan tidak prasmanan, pesan Ustadz Dony. Tidak apalah yang penting energi tubuh diisi ulang. Selesai istirahat perjalanan dilanjutkan tanpa dapat menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan karena perjalanan malam. Pukul 1 dini hari baru sampai di Pagaralam dan langsung mengantarkan bunda-bunda di penginapan Hotel Karya Bakti. Sementara rombongan ustadz langsung melanjutkan perjalanannya ke Dempo. Sekitar pukul 2 sampai di masjid Amalul Khoir, depan pabrik pengolahan teh gunung Dempo dan rombongan langsung istirahat di masjid tersebut. Bada Shubuh tanggal 31 Desember 2008, rombongan mengawali dengan rapat singkat tentang kesiapan melanjutkan perjalanan. Semua anggota dengan semangat juang yang tinggi ingin segera melanjutkan perjalanan ke Puncak Dempo yang sebelumnya sempat lapor ke petugas jaga gunung Dempo yaitu Bapak Anton dan ngobrol ringan dengan Bapak Mukhtarim, takmir masjid Amalul Khoir. Sempat berfoto ria di kawasan yang luar biasa dan subhanallah indahnya sebagai kenang-kenang awal di lereng gunung Dempo. Tanpa terasa penatnya perjalanan, pukul 9 sampai di Kampung Satu tepatnya di rumah hujan dua yang di sekitarnya dikelilingi oleh hamparan kebun teh yang menghijau. Kabut tipis mulai turun yang disertai dengan rintik hujan. Rombongan dibagi dua, rombongan pertama dipimpin oleh ustadz Ferizal melanjutkan perjalanan ke Kampung Empat dan rombongan kedua dipimpin oleh ustadz Arisman menunggu di rumah hujan dua Kampung Satu sembari menunggu antaran amunisi (alias nasi bungkus) dari warung yang nantinya juga dibawa ke Kampung Empat. Selama pejalanan mulai awal dari Masjid Amalul Khoir hingga Kampung Empat ada kisah-kisah perjalanan yang cukup terkenang. Mulai dari Ustadz Pri yang sempat kehabisan nafas alias terengah-engah karena masuk angin dan badannya yang sedikit berbobot alias berat, tergelincirnya Ustadz Dadang di kebun teh sehingga teman-teman sempat merasa kehilangan sampai keramnya kaki Ustadz Firman. Perjalanan yang mengambil jalan pintas tersebut memakan waktu hampir delapan jam. Waduh, subhanallah...luar biasa. Rombongan pertama sampai di Masjid Barokah Kampung Empat pukul 14 siang dan rombonngan kedua sampai pukul 16 sore. Setelah istirahat sebentar rombongan musyawarah mengenai kelanjutan dari ekspedisi rihlah ke puncak Dempo. Melihat kondisi alam yang berkabut dan hujan terus, mencari informasi dari para pendaki yang baru turun dan bapak RT setempat, akhirnya hasil musyawarah memutuskan untuk menunda keberangkatan hingga pagi hari. Ya...akhirnya alhamdulillah bisa istirahat lagi hingga esok hari untuk memulihkan stamina, hitung-hitung bisa mendengarkan alunan instrumentasi musik acapella (pen : mulut) di malam hari (akibat capek) mengiringi rintik hujan yang turun. Bada Shubuh tanggal 1 Januari 2009, rombongan melanjutkan perjalanan ke Puncak Dempo tanpa diikuti oleh Ustadz Dadang dan Ustadz Firman karena kurang sehat dan mereka berdua tinggal di masjid Barokah. Di awal perjalanan yang penuh semangat dan bersenandung riang rombongan berjalan dengan cepat hingga tiba di wilayah perkebunan teh menuju puncak. Rombongan sempat nyasar karena pemanduan sempat terpecah. Akhirnya rombongan bertanya ke rombongan pendaki yang membuat base camp di sana. Dengan informasi para pendaki jalan masuk harus putar balik lagi ke jalur awal. Ya...lost time nya hampir dua jam dan cukup menguras energi dan amunisi. Sampailah kita di Pintu Rimba, awal yang menegangkan dan sekaligus menyenangkan. Di level satu (hanya istilah) daerah kebun teh yang luas dan di sekelilingnya terdapat pemandangan yang luar biasa indah. Pemandangan sesekali tertutup kabut dan gerimis. Puncak gunung Dempo sempat terlihat jelas yang menambah semangat perjuangan untuk ke sana. Masuk ke level dua (sekali lagi hanya istilah) mulai dari mulut Pintu Rimba masuk ke dalam hutan. Hanya ada jalan setapak dan hanya cukup dilalui satu orang. Kalau di lagu anak-anak kiri kanan, kulihat saja banyak pohon cemara a a tapi di sini kiri jurang kanan hutan, hati-hatilah kalian an an. Benar pemandangan yang hmmm... masih asli... . Banyak tanaman hutan yang perawan alias jauh dari kerusakan parah akibat tangan manusia. Banyak pula tanaman pakis raksasa dan anggrek hutan yang indah. Menjelang pukul 9, hujan mulai turun dan disertai kabut putih tipis. Udara terasa dingin menusuk kulit dan tulang. Karena tadinya sempat lost time hampir dua jam maka yang tersisa tenaga cadangan untuk mencapai shellter satu. Cadangan air mulai menipis (habis minumnya bukan untuk membasahi tenggorokan melainkan membanjiri tenggorokan) dan mulai menghemat air minum sembari minum air hujan yang menetes di dedaunan. Luarbiasa segar sekali, air asli dari langit yang turun di gunung dan melalui dedaunan. Dan luar biasa, Allah turunkan air dari langitNya lewat celah-celah pegunungan dan kemudian menjadi mata air yang deras...jernih...bersih...bebas polusi...segar..., tapi manusia terkadang mengotorinya bahkan merusaknya. Taubat- taubat...biar selamat. Pukul 9.45 sampailah di shellter satu. Ustadz Arisman, Ustadz Dony dan Ustadz Eko mencari sumber air di dekat shellter satu. Mereka dapati sumber air, air terjun kecil di sana dan mengisi air ke dalam botol-botol air minum yang kosong. Di pos ini kami serombongan istirahat beberapa menit sembari minum dan makan mie rebus satu cangkir untuk duabelas orang. Di waktu istirahat ini pula kami musyawarah kembali untuk memutuskan meneruskan atau cukup sampai di shellter satu. Hal ini karena pertimbangan cuaca mulai kurang mendukung, persediaan bekal tinggal sedikit, pertimbangan lost time yang terjadi tadi dan tenaga mulai berkurang. Sebenarnya masih ingin melanjutkan tapi karena banyak pertimbangan dan hasil musyawarah memutuskan untuk turun kembali ke pos di Kampung Empat. Sebenarnya sih...kecewa tetapi demi kepentingan dan keselamatan bersama, keputusan harus dipatuhi. Akhirnya kami serombongan turun kembali. Dalam perjalanan turun sempat bertemu dengan rombongan pendaki yang naik. Mereka masih muda-muda dan semangat, kalau kita antupulipuga alias kelompok antara umur 30an 50an tahun dan berkeluarga. Walau demikian kami sempat berazam kembali bahwa bulan Juli kami akan kembali...kami akan kembali...kami akan kembali.......menuntaskan niat yang belum tercapai. Dalam perjalanan turun ke bawah anggota terlihat semangat untuk saling mendahului (karena jalannya menurun dan licin). Sempat beberapa anggota yang tergelincir dan sedikit bermain prosotan seperti anak TK. Tapi mengasyikan karena kalau di sekolah atau di kantor, dikira sedang sakit atau ada gangguan jiwa. Mumpung di hutan Dempo tidak ada yang lihat kecuali anggota rombongan dan tanaman hutan yang tertawa cekikan melihat para ustadz berpolah demikian. Sesampai di pos penginapan di masjid Barokah, kami membereskan perlengkapan untuk turun ke masjid Amalul Khoir dan langsung pulang. Tetapi ketika di masjid Barokah terdengar kabar bahwa gunung Dempo sedang sedikit batuk dengan menyemburkan gas belerang bersamaan dengan kabut putih dan hujan. Kami semua bersyukur dan mengucapkan alhamdulillah, coba kalau ekspedisi rihlahnya tetap dilanjutkan ke puncak bisa jadi ceritanya jadi lain. Bada Dhuhur rombongan langsung turun ke bawah dengan menggunakan mobil carteran milik pak RT, empat orang memilih jalan kaki, dan satu orang yang semula ingin ikut jalan kaki tertinggal rombongan. Akhirnya turun dengan menyewa ojek motor. Sempat pula, kita dikontak Ustadz Dedianto,Lc (Mudir SDIT Lan Tabur) untuk segera turun karena kondisi tidak memungkinkan di atas. Dalam perjalanan turun, ternyata kabut semakin tebal bahkan jarak pandang lebih kurang dua meter. Rombongan dengan mobil bersenam jantung ria, dengan muatan yang penuh antara manusia dan barang, harus melalui jalan bebatuan dan berliku sambil menembus kabut tebal. Demikian yang berjalan kaki, mereka harus mengambil jalan pintas dengan cara menerobos kebun teh. Dan saya sendiri harus bersenam jantung ria dan menahan nafas dengan naik ojek yang mesinnya dimatikan menembus kabut tebal dan gerimis serta di jalan bebatuan berliku yang menurun. Barangkali sopir ojek berpikir memang gue pikirin dan hemat bensinlah, pompa bensin jauh di kota, toh jalan menurun. Akhirnya kloter rombongan satu persatu sampai di masjid Amalul Khoir, mulai dari saya, ustadz Eko, rombongan mobil dan terakhir rombongan yang berjalan kaki. Menghilangkan rasa capek dan lapar seluruh rombongan makan sore (isi bensin) di kedai makan sebelah pabrik pengolah teh. Selesai makan sore, satu per satu anggota rombongan mencari oleh-oleh khas dari gunung Dempo yaitu teh hijau, teh hitam dan benalu teh, yang jelas serba teh tapi bukan sayur teh. Sambil menunggu jemputan, kami semua beristirahat di masjid. Ketika sedang beristirahat, kami mendapat khabar bahwa mobil carteran untuk membawa pulang ke Palembang terhalang oleh tanah longsor di daerah Lematang jalan menuju Pagaralam dan kemungkinan sampai di masjid akan mencapai larut malam. Bersamaan dengan itu pula, rombongan bunda mengontak kami bahwa mereka terdengar khabar ada insiden di gunung Dempo dan mereka mengira insiden tersebut terjadi pada kami. Lalu kami jelaskan bahwa kami serombongan selamat sehat wal afiat. Setelah mendapat penjelasan mereka tenang. Ketika sedang menunggu, saya di telpon oleh Bunda Etik guru SDIT Lan Tabur Pagaralam. Beliau meminta kita menunggu jemputan angkutan umum yang dibawa oleh ayahnya. Kami akan dijemput lebih awal dan berkumpul di rumah beliau di kota Pagaralam. Alhamdulillah... Bada Maghrib kami serombongan langsung turun menuju kota Pagaralam. Dan ternyata di rumah bunda Etik, kita disambut dengan suka cita oleh para bunda bak pahlawan yang datang dari medan juang. Duh... kayak jaman perjuangan membela kemerdekaan saja. Wakil rombongan disambut dengan dikalungkan untaian kalung dedaunan dan bunga khas di sana (kecubung). Waduh...pakai didokumentasi lagi. Selama istirahat sambil menunggu bis carteran, kami bertukar cerita dengan cerita bunda-bunda selama rihlah di Pagaralam dan sungai Lematang. Memang ketika di puncak ada insiden bagi pendaki yang lain akibat semburan gas atau uap belerang dari kawah. Dan malam itupun langit kota Pagaralam tertutup kabut debu belerang halus. Bunda-bunda pun bercerita pengalaman mereka di sungai Lematang. (catatan : kami semua belum mengetahui bahwa ada musibah yang menimpa saudara kami yang lain yang mengadakan kegiatan di sungai Lematang). Bis carteran datang lebih kurang pada pukul 20.30. Setelah mengucapkan terima kasih pada keluarga bunda Etik dan ustadz Dedianto yang telah membantu rombongan selama di sana, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Palembang. Dalam perjalanan pulang sempat terhambat dua jam lebih akibat jalan macet di daerah Lematang karena jalan lonsor yang belum selesai dibersihkan petugas. Ada hal-hal yang menyenangkan dan ada hal yang menyedihkan terbersit dalam hati masing-masing anggota rombongan. Entahlah...apakah karena kontak bathin dengan saudara yang lain yang mendapat musibah di sana (saat itu semua rombongan masih belum tahu ada musibah yang menimpa saudara kami yang lain). Lebih kurang pukul 6 pagi kami memasuki kota Palembang. Dengan semua hasil perjalanan rihlah dan hikmah yang ada masih terekam dalam benak. Masing-masing anggota rombongan pulang ke rumah. Pukul 9 pagi tanggal 1 Januari 2009 ketika saya beristirahat, dikejutkan dengan sebuah sms dari pak Emil yang mengabarkan mohon bantuan doa untuk keselamatan ustadz Ahmad karena mendapat musibah di sungai Lematang. Saya langsung bangkit untuk mengontak kembali ke pak Emil untuk menanyakan khabar tersebut. Dan kemudian mengirim sms berantai ke rekan lainnya. Pukul 11 lebih kurang, saya dibuat terkejut lagi dengan berita dari beliau bahwa ustadz Ahmad sudah diketemukan jenazahnya....innalillahi wa inni ilaihi rojiun. Duka yang mendalam bahwa kami kehilangan seorang saudara, seorang sahabat, seorang motivator dan ustadz. Kugerakkan tanganku untuk memberi khabar ke rekan lainnya. Allah menentukan semuanya, padahal ketika kejadian terjadi kami masih berada dekat dengan tempat kejadian...tidak ada komunikasi. Sedih memang sedih. Semoga kesedihan ini menjadi hikmah yang tak ternilai haganya dan semoga kematian yang dialami saudara kami merupakan kematian yang husnul khatimah yang meleburkan dosa dan kesalahannya serta menjadikan pelancar perjalanannya menuju syurga yang dicita-citakannya. Allahumma Fighlahuu warhamhuu waaafihii wafuanhuu. Semoga pula kami mendapatkan hikmah yang banyak dari semua kejadian. Amin.
(Catatan perjalananku, Rihlah ke Puncak Dempo. Kutulis pada tanggal 6 januari 2009)
|
| Last Updated on Thursday, 11 June 2009 12:13 |



