Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 335
Web Links : 140
Content View Hits : 801719
| NIFAQ |
|
|
| Tausyiah | ||||
| Friday, 16 September 2005 16:20 | ||||
|
NIFAQ
A. Definisi NIfaq            Nifaq secara bahasa berasal dari kata  (naafiqaa') yaitu salah satu lobang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, dimana jika ia dicari dari lobang yang satu maka akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula ia berasal dari kata    (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi. Nifaq secara syara yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. B. Jenis Nifaq Nifaq ada dua jenis : Nifaq I'tiqadi dan Nifaq 'amali 1.  Nifaq I'tiqodi (keyakinan) Nifaq I'tiqadi (keyakinan yaitu nifaq besar, dimana pelakunya menampakkan ke Islaman tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan keluar dari agama dan pelakunya berada di dalam kerak neraka. Allah menyifati para pelakunya dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh agama untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap jaman. Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mempu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti ini mereka masuk kedalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga mereka bisa hidup bersama umat Islam dan meresa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri semua itu dan mendustakannya. Nifaaq jenis ini ada empat macam :
Nifaq amali (perbuatan) yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi mrupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia kedalam nifaq sesungguhnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw :
اَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا. وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النَّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا. اِذَا اَؤْ تُمِنَ خَانَ وَاِذَاحَدَّثَ كَذَ بَ وَاِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَاِذَا خَا صَمَ فَجَرَ(متفق عليه) ÂÂ
"
Terkadang pada diri seorang hamba berkumpul kebiasaan-kebiasaan baik dan kebiasaan-kebiasaan buruk, kebiasaan-kebiasaan iman dan kebiasaan-kebiasaan kufur dan nifaq. Karena itu ia mendapatkan pahala dan siksa sesuai dengan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan seperti malas dalam melakukan shalat berjamaah di masjid. Ini adalah diantara sifat orang-orang munafiq. Sifat nifaq  adalah sesuatu yang buruk dan sangat berbahaya, karena itulah sehingga sahabat begitu sangat takutnya kalau-kalau dirinya terjerumus ke dalam nifaq. Ibnu abi Mulaikah berkata Aku bertemu dengan 30 sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, mereka semua takut kalau-kalau ada nifaq dalam dirinya.
Disimpulkan beda Nifaq besar dan kecil antara lain :
C. Karakteristik orang-orang munafik            Allah dalam wahyuNya banyak menyebutkan sifat-sifat orang-orang munafik, akibat bahaya mereka dikalangan masyarakat Islam. Maka tepat sekali kebijaksanaan Allah membuka rahasia dan kedok mereka serta menjelaskan karakter mereka. Karakter orang-orang munafik antara lain :ÂÂ
PertamaMereka ingin menipu Allah dan orang beriman padahal mereka menipu diri mereka sendiri. Firman Allah :
وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ ءَامَنَّابِاللهِ وَبِالْيَوْمِ اْلاَخِرِوَمَاهُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ . يُخَادِعُوْنَ الله َوَالَّذِيْنَ ءَامَنُوْاوَمَايَخْدَعُوْنَ اِلاَّ اَنْفُسَهُمْ وَمَايَشْعُرُوْنَ . البقرة : 8-9
"Diantara manusia ada yang berkata : Kami telah beriman kepada Allah dan hari kemudian padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tiada menipu (orang lain) hanya diri mereka sendiri, tapi mereka tiada sadar." QS 2 Al Baqarah 8-9
           Karakter orang munafik mempunyai bentuk lain. Berbeda dengan mukmin sejati atau kafir yang terang-terangan. Sifat orang kafir jelas, terlalu berani, keras kepala dan sombong. Baik kafir yang sedang dan independen maupun kafir yang yang brutal pengikut jahiliyah atau kafir yang ingkar kepada Allah seperti komunis atau kafir ahli kitab yang mengada-adakan atas nama Allah. Bagi kaum mukmin tidak terlalu repot menghadapi mereka, sebab telah jelas permusuhan mereka dan jelas pula kewajiban menolak mereka dalam beragama. Sehingga tidak mungkin bagi orang kaya yang ada sedikit iman dalam hatinya mau kompromi dengan mereka.
           Akan tetapi bahaya paling buruk bagi kaum mukmin ialah menghadapi kelompok murtad yang menghiasi lisannya dengan kejujuran dan keimanan kepada Allah, Rasul dan kitabNya, padahal hatinya busuk, mereka menyimpan kebencian kepada orang-orang mukmin yang tidak sekejam kebencian orang kafir. Kelompok ini semacam penyakit yang parah dalam tubuh. Hanya saja meskipun mereka kadang punya kelebihan pengetahuan keduniaan dan kedudukan di masyarakat, namun tidak memiliki keberanian untuk terang-terangan menentang agama. Ketakutan ini menyebabkan mereka berbisik kepada sekelompok masyarakat atau penguasa muslim untuk memperalat mereka dalam upaya merobohkan agama. Ini
           Penyakit nifaq ini akan bertambah parah disebabkan oleh beberapa hal :
1.   Akibat keraguan dan keburaman mereka terhadap prinsip agama. Maka penyakit ini akan bertambah manakala menerima kabar tentang cabang-cabang dan hukum-hukum agama, maka kegelapan dan penyakit hari mereka akan bertambah parah. ÂÂ
2.   Penyakit ini akan bertambah parah akibat banyaknya wahyu Allah yang membongkar borok dan kejahatan mereka. ÂÂ
3.   Telah merupakan sunnah Allah pada alam, manakala suatu penyakit tidak terobati, maka akan bertambah datang penyakit lain. Apalagi penyakit hati lebih ganas dari pada sekedar penyakit jasmani. ÂÂ
4.   Keparahan penyakit itu juga disebabkan Allah dan rasulNya yang mereka lakukan dengan kekufuran dan kebencian kepada Allah dan rasulNya. Oleh sebab itu mereka disiksa dengan pedih karena berdusta (QS 2 Al Baqarah : 10). Sungguh mereka berhak mendapat siksa pedih itu akibat perbuatan dan akhlaknya yang jahat dan kotor. Mereka memoles kekufuran dan kebohongan dengan keimanan. Dan Allah tetap mendustakan pengakuan mereka.
Kedua  Menyatakan apa yang dikerjakan adalah baik padahal disisi Allah adalah merusak. Allah berfirman :ÂÂ
وَ اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوْا فِى اْلاَرْضِ قَالُوْا اِنَّمَانَحْنُ مُصْلِحُوْنَ. اَلاَاِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلاَ كِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ. البقرة : 11-12
"Dan bila dikatakan kepada mereka : Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, mereka menjawab : Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak sadar." QS 2 Al Baqarah 11-12
           Ayat tersebut merupakan penjabaran dari eksistensi orang-orang munafik yang berkedok keimanan. Mereka semakin hanyut ketengah kebatilan. Mereka memandang kerusakan sebagai kebaikan dan yang baik justru dianggap buruk. Ini akibat kekacauan akal dan penglihatan mereka berpegang kepada ucapan para pemimpin mereka dari setan-setan manusia dan meremehkan wahyu Allah.            Demikian pula setiap orang yang berbuat kerusakan dia mengaku berbuat kebaikan. Baik kerusakan dibidang ilmu pengetahuan, ataupun mengikuti ruhaniawan dan politisi. Dia selalu mengaku berbuat baik dalam hal itu untuk mengelabuhi orang-orang yang hendak ditipunya agar dia berhasil menciptakan pembauran, kekacauan dan kehancuran bagi pihak lawan yang dalam hal ini adalah Islam.            Kemudian Allah mengkabarkan kepada kita bahwa mereka itu tidak pernah menyadarinya, akibat kekacauan akal dan kebusukan watak mereka yang telah diliputi berbagai kegelapan diatas. Mereka adalah terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang punya profesi menularkan penyakit hatinya dan sangat gigih menyerang Islam. Kelompok ini telah menjadikan nafsunya sebagai thoghut untuk menanamkan segala kejahatan dan bencana. Mereka adalah kaum Yahudi dan orang-orang musyrik firman Allah :
لَتَجِدَ نَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِ يْنَ ءَامَنُوْا اْليَهُوْدَ وَالَّذِ يْنَ اَشْرَكُوْا.
"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik." QS 5 Al Maidah : 82          ÂÂ
           Kelompok kedua adalah mereka yang tersesat dalam keburukan akibat taqlid buta tanpa perhitungan dan tidak bisa membedakan antara yang benar dan batal atau antara yang baik dan yang buruk. Sesungguhnya telah maklum bahwa ketidak sadaran mereka itu bukan tumbuh dari nurani, melainkan muncul dari bobroknya pandangan dan kotornya aqidah serta bermacam-macam penyakit yang telah mengkarat dalam hati mereka.
KetigaMenganggap berimannya orang mukmin adalah kebodohan. Firman Allah :
وَاِذَاقِيْلَ لَهُمْ ءَامِنُوْاكَمَا ءَامَنَ النَّاسُ قَالُوْا اَ نُؤْمِنُ كَمَا ءَامَنَ السُّفَهَاءُ اَلاَ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلاَ كِنْ لاَ يَعْلَمُوْنَ. البقرة : 13
"Apabila dikatakan kepada mereka : Berimanlah kamu, sebagaimana orang-orang lain telah beriman, mereka menjawab : Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh tetapi mereka tidak tahu." QS 2 Al Baqarah : 13          ÂÂ
Setelah Allah menerangkan potret kejahatan ihwal dan amal mereka maka dalam ayat ini Allah mengkabarkan hal keimanan mereka. Bahwa manakala mereka disuruh beriman secara benar sebagaimana keimanan manusia terdahulu seperti Ibrahim Musa dan Muhammad saw dan lain sebagainya, maka dengan congkak mereka menjawab "Adakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman?"
           'As Safah' secara lughat berarti sedikit akalnya,lemah pendapatnya, orientasinya pada masalah-masalah keduniaan, menghamba kepada nafsu, tanpa mempedulikan urusan-urusan ukhrawiyah, bahkan menutupi nilainya yang berupa kemuliaan di dunia dan kenikmatan yang abadi di surga, malah membeli neraka. Kebodohan manakah yang lebih buruk dan busuk dari pada itu? Oleh sebab itu Allah mengatakan "Sesungguhnya mereka itulah musuh yang sebenarnya bodoh." Mereka menjual hati kepada musuh terbesarnya yaitu setan yang kelak bersama-sama akan dilemparkan ke neraka. 'Akan tetapi mereka tidak mengetahui.'
           Adapun mereka menuduh bodoh kepada orang mukmin ini tidak mengherankan. Sebab itu merupakan watak orang-orang kafir dari dulu hingga sekarang. Kaum Nabi Nuh as pernah mengatakan, "Adakah kami akan beriman kepada engkau, sedang yang mengikut engkau orang-orang yang hina-hina? Maka pada zaman Nabi Muhammad saw mereka juga mengatakan, bahwa orang-orang mukmin adalah orang bodoh. Bahkan sekarangpun kita dapatkan tuduhan-tuduhan itu. Mereka katakan orang-orang mukmin ortodok ketinggalan jaman dan sebagainya. Lalu menyebut-nyebut diri mereka sebagai orang yang maju. Ini adalah
KeempatJika bertemu orang beriman mereka mengaku telah beriman Firman Allah :
وَاِذَا لَقُواالَّذِ يْنَ ءَامَنُوْا قَالُوْا ءَامَنَّا وَاِذَا خَلَوْا اِلَى شَيَاطِيْنِهِمْ قَالوُا اِنَّا مَعَكُمْ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ . البقرة : 14 "Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman mereka mengatakan : Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan : "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." QS Al Baqarah : 14
           Ayat ini akan menghilangkan kebingungan sementara orang-orang mengenai ayat sebelumnya. bahwa jika mereka telah berkata, adakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh telah beriman? Bukankah berarti mereka telah menolak briman terang-terangan? Lalu bagaimana bisa dikatakan munafik? Jawabnya adalah bahwa tanya jawab yang terjadi dalam ayat itu adalah tanyajawab diantara sesama mereka. Bukan tanya jawab diantara kelompok selain mereka. demikian itu dikuatkan oleh ayat berikutnya, dan apabila mereka menemui orang-orang beriman mereka berkata kami telah beriman.." maka kemunafikan mereka jelas dan keji dan itulah sikap mereka dalam menipu orang-orang mukmin dan mengelak sewaktu bertemu dengan mengaku : Kami telah beriman." Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan betapa kebusukan mereka, sehingga mempunyai dua wajah dan berbicara dengan dua lisan. Inilah sikap orang-orang munafik sepanjang waktu. Setiap waktu mereka menyusun kekuatan dan kekuasaan. Bahkan orang-orang munafik sekarang demikian pula. Lebih dari itu mereka tidak merasa takut seperti yang dirasakan kaum munafik terdahulu di dalam menipu, sehingga mereka menginjak-injak hukum dengan segala kejahatannya.
           Adapun ucapan mereka ءَامَنَّا dengan lafal mujmal (umum) ini menyangkut keimanan mereka kepada Musa manakala orang Yahudi dan keimanan mereka kepada berhala-berhala manakala orang musyrik. Bukan keimanan yang benar yang diperintahkan. Itu merupakan kebusukan, kelicikan, penipuan, pembualan atau kedok mereka dalam rangka menyelamatkan diri, keluarga dan harta mereka dari hukuman yang mesti berlaku atas orang-orang kafir. Sehingga manakala mereka berjumpa dengan kaum muslimin akan disangka sebagai orang beriman. Akan tetapi manakala mereka bersembunyi-sembunyi dengan para peminpin-pemimpinnya, mereka berkata "Sesungguhnya kami tetap bersamamu, kami tetap seide dan sehaluan denganmu." Kemudian Allah menyebut pemimpin-pemimpin mereka sebagai setan-setan, karena mereka pemimpin dalam kekufuran dan kesesatan.
KelimaMembeli kesesatan dengan petunjuk. Firman Allah :
اُولَئِكَ الَّذِ يْنَ اشْتَرُوْا الضَّلاَ لَةَ بِاْلهُدَى فَمَارَبِحَتْ تِجَارَ تُهُمْ وَمَاكَا نُوْا مُهْتَدِ يْنَ . البقرة : 16
"Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk maka tiada berlaba perniagaan mereka dan tiada pula mendapat petunjuk." QS 2 Al Baqarah 16
           Memang orang-orang munafik, yang sebagaimana sifat-sifatnya telah diterangkan oleh Allah adalah mengaku beriman, padahal mereka kafir. Menurut pengakuan mereka berbuat kebaikan, tapi justru berbuat kejahatan. Mulanya mereka menuduh orang-orng mukmin itu bodoh, kemudian menuduh orang mukmin itu tidak maju padahal mereka justru bodoh dan tidak maju karena kembali kepada kesesatan yang terdahulu. Dengan bangga mereka merasa telah mentertawakan kaum mukmin, tidak tahunya Allah telah mengejek mereka. sebenarnya pangkal kelakukan mereka sedemikian ini adalah karena mereka telah membeli kesesatan dengan petunjuk. Mereka justru memilih kekufuran daripada keimanan. Itnilah letak kekejian mereka yang berlawanan dengan fitrah dan jauh dari agama, akibat mereka telah menukarkan keimanan dengan kekufuran. Maka mereka salah hitung, rugi dan tidak bakalan menemukan jalan yang lurus, malah tidak mendapatkan petunjuk kepada ilmu Allah sebagaimana yang telah didapatkan oleh orang mukmin. Mereka telah memilih kesesatan, lalu menukarnya dengan harta yang sangat bernilai yaitu keimanan kepada Allah, maka bagaimana akan beruntung?
           Memang terkadang ada orang yang tidak beruntung dalam perjalanan bidupnya, meskipun dia tetap diatas petunjuk dan kesadarannya. Adapun kerugiannya itu semata-mata disebabkan hal-hal yang baru dan tiba-tiba. Maka perihal kerugian itu tidak berhak untuk dicela. Sedangkan mereka jelas bahwa kejatuhan mereka disebabkan oleh langkah-langkah yang membabi buta. Oleh sebab itu Allah mencabut keuntungan dan sekaligus hidayah mereka. mereka telah mengesampingkan akal semestinya sebagai dasar bagi mereka terhadap pandangan-pandangan yang benar serta menuntun mereka kepada hasil yang gemilang. Bahkan mereka kemudian menghamba kepada nafsu dan terbawa oleh pengaruh para pemimpin mereka yang dikatakan sebagai setan-setan. Sehingga mereka meninggalkan jalan-jalan yang menuju kepada ilmu yaitu perasaan, penglihatan dan pendengaran. Sungguh mereka telah memilih kesesatan, keraguan dan kebodohan sekaligus meninggalkan hidayah, keyakinan dan ilmu. Maka bagaimana mereka akan beruntung dalam pilihannya itu? Toh mereka tidak mau meniti jalan yang benar yaitu wahyu Allah juga tidak mau memahaminya. Demikian setiap orang yang dipermainkan oleh gelombang zaman serta kejadiannya dan terikat oleh tradisi serta bertaqlid kepada para penyebar kepercayaan dan politisi. Sesungguhnya mereka telah mengesampingkan akal serta dan perasaan yang suci. Kemudian mereka mengekor kepada pemimpinnya yang dengan segala takwil dan perubahan, mereka bertingkah dan memakai cara-cara orang Yahudi dan orang-orang munafik, yang menurut penggambaran Allah kepda kita adalah selalu menuju kehancuran. Pada keterangan diatas tentu bagi seorang mukmin akan melihat betapa sempurna pertolongan dan rahmat Allah kepadanya, manakala dia menghadapi orang-orang munafik dan menjadikan sebagai orang yang tertipu, akibat tipuannya kepada orang-orang mukmin. Kemudian Allah juga menentukan kehancuran bagi mereka susuatu yang menurut anggapan mereka sebagai hal yang baik. Bahkan lebih dari itu, Allah telah menentukan kebodohan bagi mereka, menjelaskan ihwal mereka, membuka kedok mereka dan mentertawakan serta menyiksa mereka di dunia dan di akhirat.
           Alangkah celaka orang yang menjadi musuh Allah. Sungguh ia tidak akan mencium angina kebahagiaan dalam segala aspek kehidupannya baik dalam berpolitik maupun bermasyarakat. Karena Allah selalu menjadikan semua urusannya itu sia-sia dan hancur porak poranda, sehingga dia tenggelam ketengah kegelapan.
           Sebenarnya ayat-ayat diatas menggambarkan kepada kta tentang dua kelompok besar. Pertama kelompok munafikin. Kelompok ini dicela dan diancam oleh Allah serta tidak diberi kedudukan sama sekali. Bahkan letak tembalasan bagi mereka adalah dikerak neraka firman Allah :
اِنَّ الْمُنَا فِقِيْنَ فِى الدَّ رْكِ اْلاَسْفَلَ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا . النساء : 145
"Sesungguhnya orang - orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." QS 4 An Nisa' : 145ÂÂ
Keduakelompok mukminin. Kelompok ini selalu dibela oleh Allah dalam menghadapi tipudaya orang-orang munafik. Kaum mukminin adalah wali-wali Allah. Oleh sebab itu Dia menjamin pada akhirnya kemenangan bagi mereka dan kehancuran bagi musuh-musuh mereka yang pada ujungnya akan masuk neraka. Dengan demikian, kaum mukminin menjadi lega dan mesti perjalanan hidupnya hanya menuju kepada Allah dengan segala kejujuran dan keikhlasan, serta mengandalkan janji Allah yang senantiasa terpenuhi, bahkan dengan gigih mereka akan bangkit menolong agamaNya tanpa gentar sedikitpun meski melihat jumlah musuh besar dan kekuatan yang dominan.
D. Membersihkan hati dari karat nifaq dan mengisinya dengan keimanan
           Suatu wadah patut untuk dituangi sesuatu haruslah terlebih dulu kosong dan bersih dari sesuatu . contoh sebuah gelas yang didalamnya telah terdapat garam, maka tidak patut dimasuki gula sebelum lebih dulu gelas itu dibersihkan. Demikian pula cangkir yang penuh kotoran, tidak patut dituangi susu atau minyak, sebelum ia diberihkan dari kotoran itu. Ini suatu ketentuan yang pasti dan atidak lagi menerima perdebatan. Demikian pula hal yang lain. Baik soal kehendak, i'tikat, indera maupun perasaan manusia. Apalagi hati. Maka bilamana hati telah penuh dengan sifat, i'tikat, indera maupun perasaan manusia. Apalagi hati maka bilamana hati telah penuh perasaan sifat, iktikat dan kecintaan yang batil maka selama itu pula ia tidak mempunyai tempat untuk iktikat dan kecintaan yang benar. Sebab keduanya tidak bisa kumpul dalam sutu wadah.
           Oleh sebab itu, wajib seorang mukmin selalu membersihkan dan memurnikan hatinya dari mencintai si fulan dan si fulan yang justru dibenci oleh Allah. Tidak pantas bagi seorang mukmin mencintai orang-orang yang telah mengangkat dirinya sebagai pencetus hukum dan undang-undang dengan menyingkirkan wahyu Allah yang dianggapnya kaku dan tidak sesuai lagi diterapkan di zaman modern. Sesungguhnya hati yang telah menyintai mereka, maka sudah barang tentu tidak bisa menyintai Allah dan RasulNya. Karena pada dasarnya dua cinta yag bertentangan tidak mungkin berkumpul dalam satu hati. Tidak mungkin cinta kepada Allah dan sekaligus menyintai musuh-musuhNya. Ini suatu hal yang mustahil. Oleh sebab itu Allah telah berfirman :
لاَ تَجِدُ قَوْ مًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلاَخِرِ يُوَآ دُّ وْنَ مَنْ حَآ دَّ اللهَ وَ رَ سُوْ لَهُ وَ لَوْ كَا نُوْا ءَا بَـآ ءَ هُمْ اَوْ اَ بْنَا ءَ هُمْ اَوْ اِخْوَا نَهُمْ اَوْ عَشِيْرَ تَهُمْ . المجادلة : 22
"Engkau tiada memperoleh kaum yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, bahwa mereka mengasihi orang-orang yang menentang Allah dan rasulNya, meskipun mereka itu bapak, anak, saudara atau kaum kerabat mereka…..……" QS Al Mujadalah : 22
           Demikian pula manakala hati telah dipermainkan oleh kekacaauan batin yang disengaja oleh kaum Yahudi maupun munafiqin disekeliling kita, lalu tidak memiliki penalaran, jalan dan prinsip-prinsip kokoh tentu saja disitu tidak dapat menerima kebenaran yang dibawa oleh Muhammad saw. Semoga Allah melindungi kita dari kelengahan dan kegelapan kebatilan. Juga manakala hati telah penuh cinta kepada syahwat kehewanan, pasti tidak mau menerima dan menyintai i'tiqad dan amal yang dikehendaki oleh Allah, tidak dapat menyintai Allah dan bahkan tidak mungkin pula menyukai seseorang yang beramal yang disukai Allah. Kalau hati telah menyintai dunia dengan segala kegemerlapan dan permainannya, maka disana tidak ada tempat lagi buat menyintai dan mengingat wahyu Allah.
           Tidak diragukan lagi, hati yang telah terpatri oleh sesuatu selain Allah swt, maka disitu terdapat semacam atau beberapa bentuk kemusyrikan yang sekaligus akan mengeluarkannya dari agama Islam. Sebab kehendak dan perbuatannya hanyalah semata-mata terdorong oleh perasaan cinta serta mengesampingkan kehendak dan keridhaan Allah. Maka dengan demikian hati mempunyai peranan yang sangat penting sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
اَلاَ وَاِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً وَ اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلَّهُ وَاِذَا فَسَدَ تْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ingat! Sesungguhnya pada jasad terdapat segumpal darah. Apabila ia baik maka seluruh jasad akan baik. Dan apabila ia rusak maka seluruh jasad akan rusak pula. Ingat dialah hati."[1]          ÂÂ
           Sesungguhnya cinta untuk Allah dan pada Allah adalah merupakan ketauhidan yang murni. sedangkan cinta selain kepada Allah adalah kemusrikan. Sebenarnya kemusrikan tidak hanya terbatas pada penyembahan terhadap berhala. Akan tetapi lebih luas lagi yaitu manakala hati telah berpaling dari Allah dan menuju kepada kecintaan dan kesukaan selainNya. Oleh sebab itu Rasulullah saw telah memperingatkan. Celakalah hamba dirham dan celaka pula hamba dinar.
           Demikian pula lisan manakala ia terbiasa berkata batil dengan berbagai obralan dan lelucon, tentu tidak sempat lagi utnuk mengucapkan dzikir, membaca al Quran atau berkata yang baik. Kecuali bilamana ia telah meninggalkan kebatilan dan menyempatkan untuk itu. Juga tidak bermanfaat, sudah barang tentu tidak lagi mau menyimak kebenaran. Bahkan semua anggota badan manusia bilamana dipergunakan untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah, tentu berat untuk melakukan sesuatu yang diridhai Nya. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda :
لَأََ نْ يَمْتَلِئُ جَوْ فُ اَحَدِكُمْ قَيْحًا حَتَّى يُرِ يْهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْيَمْتَلِئَ شَعِيْرًا
"Demi jika perut diantara kalian dipenuhi nanah, sehingga diantara kalian melihatnya, itu lebih baik dari pada dipenuhi gandum."[2]          ÂÂ
           Yang dimaksud gandum disini adalah hal yang dapat menfitnah dan merusakkan hati dengan segala tipuan yang keji. Maka bagaimana dengan orang yang hatinya penuh dengan keraguan, kebimbangan, khayalan, teori-teori yang rusak, perkiraan-perkiraan yang kosong dan segala penemuan dan ilmu baru yang rusak dan berbahaya sebagaimana teori-teori Frued dan Thoghut-thogut Yahudi lainnya yang hanya diilhami oleh wahyu setan-setan manusia yang menjadi musuh para rasul dan umatnya sampai hari kiamat? Itu tidak lain hanyalah dari gandum sebagaimana yang dinashkan dalam hadits tersebut. Termasuk suatu hal yang maklum adalah gembong-gembong setan jin dan manusia selalu memerangi dan merusak hati dengan segala macam cara dan manakala telah memenuhi hati dengan hal-hal idatas maka disitu tidak ada lagi tempat untuk menerima cahaya al Quran dan kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dan kemudian jika hati telah terpenuhi wahyu-setan-setan tersebut, jelas dia tidak mau lagi menerima nasehat.                                                            --ooOwrmOoo--
Al Quran al Karim Al Maroghi, Ahmad Musthofa, Tafsir al Maroghi,Thoha Putra, Semarang As Suyuthi, Djamaluddin dan Djalauddin al Mahally, Tafsir Jalalain, Sinar Baru, Bandung Hadhiri, Choiruddin SP, Klasifikasi Kandungan Al Quran, Gema Insani Pers, Jakarta Faridl, Miftah, Pokok-pokok ajaran Islam, Pustaka, Bandung As Saidi, Abdur Rahman bin Nasir, Al Qoulus Sadid-Syarah Kitab Tauhid, Pustaka Arafah, Solo. Amrullah, Haji Abdul Malik Karim (HAMKA), Tafsir Al Azhar, Latimojong,
An Nawawi, Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf, Riadhus Sholihin, Al Ma'arif,
Samarqondi, Al Faqih Abu Laits, Tanbihul Ghafilin, Mutiara Ilmu
Abbas, Abul Zainudi Ahmad bin Ahmad bin Abdul Lathif Asy Syiraji Az Zubaidi, Terjemah At Tajrid Ash Shorih (Shohih Bukhari), Penerjemah Muhammad Zuhri, Toha Putra,
An Nawawi, , Shohih Muslim bi Syarhi An-Nawawi, Penerjemah Makmur Daud, Widjaja,
Muhammad, Dr. Ibrahim bin Abdullah Al Buraikhan, Rabbani Press,
Sabiq, Sayyid, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Diponegoro, Bandung. Zaini, Drs. Syahminan, Kuliah Aqidah Islam, Al Ikhlas, Surabaya. Hasbi, Teungku Muhammad Ash Shiddiqy, PT. Pustaka Rizky Putra,
|
||||
| Last Updated on Thursday, 29 September 2005 16:58 |


