Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 311
Web Links : 140
Content View Hits : 390311
| Abdullah bin Umar bin Khaththab Cermin Tauladan dan Sikap Tawadlu |
|
|
| Cerita |
| Written by Administrator |
| Tuesday, 10 April 2007 17:40 |
|
Lahir pada tahun 414 Masehi atau berjarak sekitar 420 tahun setelah kehidupan Nabi SAW. Ia seorang pemuda yang luar biasa cerdasnya. Pemikirannya sepuluh tahun lebih dewasa dari usia yang sebenarnya. Tidak mengherankan, karena ia anak kesayangan Umar ibn Khaththab. Sejak kecil, Ibnu Umar sering bergaul dengan Nabi. Pantas jika ia termasuk periwayat Hadits terbanyak selain Aisyah RA dan Abu Hurairah. Sewaktu Perang Badar, Ibnu Umar ngotot ikut perang. Namun Nabi melarangnya, karena ia baru berumur 13 tahun. Kecintaannya kepada nabi SAW sangat mengagumkan! Ibnu Umar seorang Ahli Ibadah. Pendiriannya tegas. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang paling tidak bisa melihat penderitaan orang lain. Di samping cerdas, perasaannya sangat halus. Ibnu Umar adalah orang yang pertama kali memahami makna di balik turunnya
Ketika terjadi kemelut, siapa yang bakal menjadi pemimpin umat Islam setelah terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan yang sampai menumpahkan darah orang-orang Islam, Ibnu Umar malah sembunyi. Padahal umat mengharapkan kesanggupannya untuk dibaiat, sampai datang kepadanya seseorang dan mengancam akan membunuhnya. Orang tersebut berkata, "Tak seorangpun yang lebih buruk perlakuannya kepada manusia selain kamu."
"Mengapa?", tanya Ibnu Umar sambil terperanjat.
Orang tersebut berkata, "Ulurkan tangan anda agar kami bisa memberikan baiat! Anda adalah pemimpin Islam dan putra dari seorang pemimpin."
"Kita gempur mereka sampai mau memberikan baiat!"
Langsung terpikir di benak Ibnu Umar bau darah. Seandainya menjadi Khalifah, ia mesti memerangi mereka yang tidak setuju.
"Kalau demikian, saya lebih baik tidak usah menjadi siapa-siapa", kata Ibnu Umar tegas.
"Ibnu Umar bukannya lupa akan kehidupan dunia, tetapi ia tidak mau serakah untuk menikmatinya. Cukup sedikit saja yang ia nikmati. Malah ia pernah berdoa kepada Allah, "Ya Allah! Engkau mengetahui, jika tidak karena takut kepada-Mu, tentulah kami akan ikut berdesakkan dengan mereka memperebutkan dunia ini."
"Sepeninggal Utsman bin 'Affan yang terbunuh ketika sedang membaca al-Qur'an, suasana umat Islam begitu panas. Itulah salah satu puncak dari perselisihan pendukung Ali dengan pendukung selainnya. Apalagi Muawiyah bin Abi Sofyan juga bersaing mengincar jabatan puncak itu. Ibnu Umar tidak ingin tercebur dalam kekacauan yang lebih ruwet. Sebab, semua yang bertikai tak lain adalah sahabat-sahabatnya, bahkan saudara-saudaranya sendiri. []
Oleh: Ajib Purnawan (Â Mantan Koordinator Komisariat IMM UIN Sunan Kalijaga dan aktivis Komunitas Mahasiswa Sejarah Yogyakarta) |
| Last Updated on Monday, 17 December 2007 03:10 |


