Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 311
Web Links : 140
Content View Hits : 390372
| PENGALAMAN KAMI |
|
|
| Cerita |
| Written by Administrator |
| Tuesday, 29 May 2007 18:05 |
PENGALAMAN KAMI
Oleh : Agus Priyatmono,S.Pd. *)
Teeett
teett
tett
bel tanda pelajaran berakhir berbunyi.
Horee
.selesai teriak siswa kelas 5B SD Harapan Indonesia menyambut dengan
gembira.
Nah
anak-anak, tugasnya tolong diselesaikan di
rumah berikut laporan pengamatannya, kata Bu Rahma.
Ya bu , jawab mereka serempak. Sekarang bereskan buku
dan alat tulis kalian. Dan mari kita akhiri pelajaran kali ini dengan berdoa
bersama. Selesai mengucapkan salam anak-anak kemudian dipersilahkan keluar
dari kelas oleh Bu Rahma.
Di luar kelas tampak
serombongan siswa masih berkumpul sambil membicarakan rencana tugas pengamatan
mereka. Kali ini Bu Rahma memberi tugas mengamati jenis-jenis tanaman atau
hewan di daerah sekitar Kalibebeng sekaligus mengadakan kemah edukatif akhir
pekan bersama para pengasuh kepanduan.
Adim, Syaif, Andi, Angga
dan beberapa teman satu kelompoknya berdiskusi tentang persiapan kemah edukatif
mereka sekaligus tugas sains.
Angga
, saya usul bagaimana
kalau mendata jenis tanaman berbunga
majemuk lalu kita cocokkan dengan data yang ada di buku katalog tanaman
perpustakaan. Setuju?, usul Andi.
Iya Ngga
saya setuju
usulan Andi, timpal Syaif.
Oh ya, tapi kita perlu
membatasi bahasan pendataannya, sambung Adim.
Baiklah, mari kita
rumuskan bersama, jawab Angga semangat.
Akhirnya mereka sepakat
merumuskan pendataan tanaman sesuai dengan tugas mereka dan juga pembagian
tugas untuk persiapan kemah akhir pekan.
Sabtu siang rombongan
siswa kelas 5 SD Harapan Indonesia berangkat dengan 3 bis dari sekolah menuju tempat kegiatan yaitu bumi perkemahan
Kalibebeng. Semua menikmati perjalanan menuju lokasi yang melewati kebun salak,
perkebunan penduduk yang tertata rapi dan tak kalah indahnya adalah pemandangan
perbukitan yang hijau dan terpelihara. Terbayang aliran mata air yang jernih
dan sejuk mengalir di sepanjang saluran
air di pinggir jalan.
Subhanallah
indah sekali
, kata Rani dengan mata yang berbinar cerah
melihat pemandangan tersebut.
Iya..ya..aku juga senang
dengan pemandangan ini, sahut Fitri.
Sebagian
siswa bernyanyi tentang keindahan alam
dengan iringan tepuk tangan berirama siswa lainnya. Tanpa terasa akhirnya
sampai ke tujuan di bumi perkemahan Kalibebeng, dan satu persatu siswa turun
dari bis sambil membawa perlengkapan kemah dan perbekalan mereka. Dipimpin oleh
Pak Shobar sebagai pimpinan rombongan, mereka menuju lokasi kemah dengan
berjalan kaki menyusuri jalan setapak pinggiran perbukitan di Kalibebeng.
Terlihat jelas puncak gunung Merapi yang indah dan sedikit kepulan asap yang
keluar. Sesekali burung-burung terbang melintas di atas rombongan dengan suara yang
terdengar merdu menghilangkan kelelahan yang terasa.
Nah
kita sudah sampai di lokasi tempat pendirian kemah. Sekarang istirahat
sebentar sebelum kita mendirikan tenda, kata pak Shobar.
Alhamdulillah akhirnya
sampai juga, kata Angga.
Wah...kita bisa betah nih
tinggal berkemah di sini, Sambung Syaif.
Ayo
semua barang
dikumpulkan, istirahatnya sudah cukup. Kelompok putra di sebelah Utara dan kelompok
putri di sebelah Barat. Dan di sini khusus untuk tenda pembina, instruksi pak
Shobar. Jangan lupa buat pembatas lokasi perkemahan masing-masing.
Kelompok putra membuat
pembatas lokasi kemah sekaligus batas masing-masing kelompok kecil, demikian juga
dengan kelompok putri. Mereka dengan semangat mendirikan
tenda masing-masing dan akhirnya selesai menjelang waktu Ashar.
Alhamdulillah
tenda kita selesai, kata Adim
Kegiatan selanjutnya akan
diadakan apel pembukaan khan,Andi menyela.
Iya
, jawab Angga sambil
mengencangkan tali tenda bagian depan.Alhamdulillah, insya Allah kuat,
lanjutnya.
Yuk
kita masukkan dan tata barang-barang kita, kata Angga
Ayo
, serempak mereka mengiyakan ajakan Angga.
Kelompok Adim segera menata barang mereka di dalam tenda. Hampir semua
kelompok baik putra maupun putri sudah menyelesaikan pekerjaannya
masing-masing.
Prit
prit
prit
,prit
prit
prit
bunyi peluit pak Shobar memberi tanda kepada para siswa untuk berkumpul. Dengan
berlari mereka menuju ke lokasi pak Shobar berdiri dan membuat barisan
masing-masing kelompok. Anak-anak, sebelum apel pembukaan dimulai, kita sholat
Ashar berjamaah dahulu baru kemudian kita siapkan apel pembukaan. Siap
Siaaaap
., teriak para
siswa bersamaan.
Kemudian mereka berwudhu
dengan air yang mengalir melalui keran-keran kecil dari pipa saluran air besar
yang ada di sekitar mereka. Dan mereka lanjutkan dengan sholat Ashar berjamaah
di tempat yang agak lapang di sekitar perkemahan mereka.
Assalaamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh. Anak-anak, sore hari yang cerah ini, di suasana
yang membuat kita takjub akan kekuasaan Sang Pencipta dan disertai rasa syukur
kita atas nikmat Sang Maha Kuasa, mari kita mulai kegiatan perkemahan edukatif
akhir pekan ini dengan bersama-sama kita membaca bacaan Basmalah bersama.
Semoga kegiatan ini tidak hanya akan mencerdaskan akal pikiran kalian tetapi
lebih dari itu semoga kegiatan ini akan menambah rasa keimanan kita semua
dengan melihat kebesaran Sang Pencipta di sekitar lokasi ini, Pak Shobar
memberikan sambutannya. Teknis pelaksanaan kegiatan akan dipandu oleh
masing-masing guru pemandu kalian. Sekian terima kasih, wassalaamualaikum
warahmatullahi wabarakaatuh, pak Shobar mengakhiri sambutan singkatnya.
Setelah apel pembukaan
selesai para siswa membubarkan diri dan menuju ke tenda masing-masing. Mereka
berkelompok dan berdiskusi dengan guru pemandu masing-masing mengenai tugas
yang akan dikerjakan bersama. Ada yang ingin meneliti hewan-hewan serangga yang
hidup di lingkungan berbatuan, ada yang ingin meneliti populasi serangga di
sekitar sumber mata air di Kalibebeng dan ada pula yang ingin mendata tumbuhan
bunga di lereng bukit sekitar Kalibebeng.
Selepas Isya mereka
melakukan kegiatan diskusi lanjutan untuk mempersiapkan kegiatan penelitian
besok pagi hingga pukul 21.30. Acara dilanjutkan dengan permainan mencari jejak
di sekitar lokasi perkemahan. Menjelang pukul 23.15 permainan selesai, mereka kembali ke kemah
masing-masing untuk beristirahat dan mengembalikan tenaga untuk persiapan
kegiatan esok pagi.
Selepas pukul 06.00 para
siswa sudah menyiapkan diri untuk kegiatan penelitian masing-masing. Tiap
kelompok siswa mulai berangkat sesuai lokasi penelitian. Ada yang menuju lereng
sungai Kalibebeng, ada yang ke hutan pohon pinus, bahkan ada yang menuju celah
perbukitan yang rimbun.
Angga dan teman-teman
memilih sisi Utara dinding sungai Kali Bebeng yang sedang kering dan yang ada
hanyalah hamparan pasir dan bebatuan material gunung Merapi. Mereka mencatat
dan menggambar bagian dari tanaman serta memotretnya. Dengan semangat kelompok
Angga menelusuri dinding sungai Kali Bebeng. Tanpa terasa jam sudah menunjukan
pukul 09.25, walaupun begitu sinar matahari yang cerah tidak mengubah suasana
di daerah Kali Bebeng yang tetap sejuk. Adim sudah merasa capek dan mengajak
teman satu kelompoknya untuk beristirahat, Angga, Andi, yuk istirahat
sebentar, saya capek nih
Ayo, kita istirahat
sebentar sambil nikmati perbekalan kita, aku tadi tidak sempat sarapan, sahut
Angga. Syaif, kamu bawa snack apa ? bagi dong.
O..., aku bawa nasi gudeg
lauk krecek, Kata Syaif.
Nih, mau cicip tidak. Aku
bawa gethuk dengan tempe bacemnya, asli Kaliurang lho..., Timpal
Andi.
Mereka saling tukar perbekalan dan menikmatinya
sehingga tanpa terasa 20 menit berlalu. Dengan bergegas keempat anak itu melanjutkan tugas yang sempat tertunda sejenak.
Ketika berjalan sambil menulis data yang didapat, Angga melihat ada celah di
dinding sungai Kali Bebeng dengan lebar kurang lebih satu meter dan tinggi
hanya cukup untuk orang merunduk. Hei Syaif, Andi, Adim, kemari. Coba lihat, apa yang kutemukan, teriak
Angga mengejutkan yang lain.
Ada apa, Ngga ?, Kata
Syaif.
Hah... lubang apa ini, Adim terperangah.
Nggak tahu ya. Barangkali ini lubang bekas tentara Jepang.
Kata Pak Andri guru IPS kita di sekitar sini memang banyak lubang bekas
peninggalan tentara Jepang ketika perang dulu, kata Angga.
Yuk, kita coba masuk, sela Andi.
Nggak ah.., takut, sahut
Adim sambil menggelengkan kepala.
Ayolah
kita coba sebentar.
Barang kali ada jalan tembus
ke sisi bukit ini, bujuk Angga.
Nanti kita tersesat atau
ada ular ganas di dalam lubang ini atau ...hiii, bergidik Adim menjawab
bujukan Angga.
Nggak usah takut !Bismillah,
kita sama-sama..., hitung-hitung ada pengalaman serunya, tantang Angga.
Baiklah, kita coba. Tapi
kamu yang tanggungjawab, kata Adim.
Ya... ayo kita sama-sama masuk, tegas Angga.
Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam lubang
itu. Beriringan mereka berjalan merunduk sambil berpegangan satu dengan
lainnya. Dengan senter di tangan Angga berjalan di depan sebagai penuntun
kelompoknya. Ternyata jalan dalam celah tersebut lumayan panjang dan gelap
sehingga suara nafas mereka terdengar bergema. Tak berapa lama kemudian
sampailah mereka di sebuah ruangan seperti aula selebar lapangan voli dan di
atas langit-langitnya terdapat lobang kecil yang cukup untuk cahaya matahari
menembus ke dalamnya. Terdengar gemericik air yang jatuh di bebatuan. Pemandangan
tersebut membuat keempat anak itu terperangah. Mereka menyorotkan lampu senter
ke dinding-dinding gua, terlihat lubang-lubang kecil sebesar dua kali kepalan
orang dewasa. Entahlah apa yang ada dalam pikiran Angga dan teman-temannya.
Ketika asyik melihat dinding gua, tiba-tiba salah
satu di antara lubang-lubang itu mengeluarkan cahaya biru berkilau yang membuat
mereka kaget, sampai-sampai hampir lari. Apa itu ?, sergah Adim yang dari
tadi memang agak takut.
Entahlah, coba kita lihat, kata Angga.
Jangan Angga ! , cegah Andi.
Tidak apa-apa, coba aku lihat sendiri, kata
Angga meyakinkan temannya. Hah... apa itu ?. Sedikit kaget Angga berteriak.
Ada apa Angga ?, tanya Andi tak kalah kaget.
Entahlah, aku sendiri tidak tahu dan merasa aneh
!, Kata Angga. Di dalam lubang ini seperti ada batu kristal kecil yang
berwarna biru !.
Coba lihat, Ngga, timpal Syaif mencoba memberi
solusi. Kemudian Syaif melihat ke dalam lubang yang mengeluarkan cahaya tadi.
Subhanallah, apa ini yaa.., apakah sebuah batu permata?
Entahlah, coba saya ambil Syaif, kata Angga.
Kemudian Angga mencoba meraih batu yang terdapat
di dalam lubang. Ketika tangan Angga menyentuh batu kristal itu, tiba-tiba
cahaya yang keluar semakin terang hingga memenuhi ruangan dimana mereka berada.
Ruangan terasa dingin, cahaya biru memenuhi ruangan beberapa detik dan akhirnya
padam kembali. Gelap. Hening. Semua yang berada di dalam ruangan gua itu
terkesima sejenak dan menahan teriakan yang seharusnya keluar dari mulut
mereka.
Apa yang terjadi Angga?, tanya Adim sambil
memegang tangan teman-temannya.
Entahlah, aku sendiri tidak tahu, jawab Angga
masygul.
Yuk, kita keluar saja. Aku takut nih !, sela
Syaif dengan mimik ketakutan.
Iya, Angga. Ayo kita keluar !, sambung Andi tak kalah
takutnya dengan Syaif.
Baiklah, mari kita keluar dengan hati-hati, ajak
Angga. Kenapa ya, kok tiba-tiba batu kristal itu mengeluarkan cahaya biru yang
memenuhi ruangan dan mengubah suasana ruangan menjadi dingin. Dan sekarang batu
itu menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya biru, lanjut Angga yang masih
dipenuhi rasa keheranan.
Mereka berempat beriringan keluar dari dalam gua
dengan penerangan lampu senter yang di bawa tadi. Sesampai di mulut gua, rasa kaget
kembali terasa karena suasananya sudah lain, tidak seperti ketika masuk gua. Banyak
petugas polisi dan beberapa guru pembimbing sementara teman-teman mereka tidak
terlihat seorangpun.
Pak Shobar ...pak Shobar... ada apa ini ? kemana
teman-teman yang lain ?, teriak Angga. Untuk kesekian kalinya terjadi keanehan
. Pak Shobar tidak bereaksi. Pak Shobar sepertinya tidak mendengar panggilan
itu. Kemudian Angga dan ketiga temannya melangkah mendekati tempat pak Shobar
yang berdiri dikelilingi beberapa polisi . Sekali lagi mereka mencoba untuk
memanggilnya.
Pak
Shobar... ini kami, ada apa ini ? Kemana teman-teman yang lain ?, serempak
mereka bertanya.
Pak Shobar menoleh dan kaget sambil berkata,
Subhanallah..., Allahu Akbar.... Angga, Andi, Syaif, Adim...kemana saja kalian
?. Pak Shobar dengan bergegas berlari kecil menuju keempat siswanya dan memeluk
mereka erat-erat.
Angga dan teman-temannya saling memandang dengan
wajah penuh tanda tanya Memangnya apa yang terjadi, Pak ?, tanya Angga.
Angga..., kami mencari kalian sejak tiga hari
yang lalu. Bapak mendapatkan laporan dari temanmu terakhir melihat kalian di
sekitar sini, jawab Pak Shobar.
Hah...tiga hari...?, Angga dan ketiga temannya
bertambah heran.
Ya, tiga hari yang lalu kami kehilangan kalian.
Sekarang orangtua kalian menunggu di posko bumi perkemahan di atas. Kasihan
mereka menunggu sudah lama. Alhamdulillah sekarang kalian kembali, jelas pak
Shobar.
Masih dalam keheranan, mereka berempat saling
bertanya,Apa yang terjadi pada kita berempat ?.
Ayo, kita ke posko, kata salah satu polisi yang
mendampingi mereka.
Kesemuanya berjalan menuju posko. Di sana tampak
orangtua Angga, Adim, Syaif dan Andi menunggu. Terlihat ibu Angga dan Syaif
masih memerah matanya yang disebabkan menangis. Sejurus kemudian para orangtua itu
memeluk dan menciumi anaknya masing-masing. Kalian kemana saja nak.., keluh
mareka.
Mereka berempat ditanya oleh salah seorang polisi
untuk mencatat kejadian yang sebenarnya terjadi. Mendengar apa yang diceritakan
Angga dan kawan-kawannya membuat orang-orang yang berada di posko itu saling memandang
satu dengan lainnya, heran dan juga takjub. Entah apa sebenarnya yang terjadi
pada keempat siswa SD Harapan Indonesia itu. Satu fenomena alam yang sulit
dijelaskan secara ilmiah tapi itu semua merupakan satu bentuk kekuasaan Sang
Pencipta.
(Praktisi Pendidikan)
|
| Last Updated on Friday, 11 January 2008 17:46 |


