Kurs Valuta Asing

Konversi 

ke

  

Statistics

Members : 5
Content : 335
Web Links : 140
Content View Hits : 801619
Sandal jepit ustadz Print E-mail
Cerita
Written by adm02   
Thursday, 22 May 2008 17:33

Ketika masih di bangku kelas enam sekolah dasar, saya dan beberapa teman belajar mengaji di rumah seorang ustaz. Seperti kebanyakan pengajian anak-anak di kampung pada saat itu, seorang ustaz sudah dianggap sebagai Ayah sendiri, istrinya pun sudah seperti ibu bagi anak-anak yang belajar, bahkan rumah ustaz yang dipakai untuk tempat belajar mengaji dianggap rumah sendiri sehingga sudah lazim setiap sebelum mulai pengajian, ada anak-anak yang bergantian tugas membersihkan rumah.

Pernah suatu hari, saya tak mengerjakan kewajiban saya membersihkan lantai dan lebih memilih bermain di halaman depan seraya membiarkan anak lain yang membersihkan. Saat pengajian dimulai, Pak ustaz memanggil saya dan meminta saya berdiri di sudut ruangan sebagai hukuman. Saya kesal, marah, dan merasa harus berbuat sesuatu untuk membalasnya. Akhirnya, sepulang mengaji, saya sengaja menyembunyikan sandal jepit milik Pak Ustaz.

Saya tahu, sandal itu yang selalu dipakainya saat mengantarkan anak-anak pulang sampai ke pintu gerbang. Sandal itu juga yang sering dipakainya pagi hari untuk jalan-jalan sekitar kampung. Hingga kini, saya tak pernah lagi tahu apakah Pak Ustaz merasa kelimpungan malam itu, atau paginya, mencari-cari sandal jepitnya. Karena ketika keesokan sorenya saya kembali untuk mengaji, sepasang sandal jepit baru terlihat di samping pintu rumah. Milik Pak Ustaz, duga saya.

Hingga hari ini, saya tak pernah bisa menghilangkan ingatan saya akan peristiwa hampir dua puluh tahun silam. Seperti halnya saya tak pernah bisa lupa akan wajah teduh dan sabar Pak Ustaz mendidik puluhan anak yang sebagian besar justru bertipikal seperti saya, susah diatur dan nakal. Namun yang terus-menerus membuat saya lelah adalah betapa saya senantiasa dihantui rasa bersalah karena menyembunyikan sandal jepit Pak Ustaz. Sungguh, sampai hari ini saya masih mampu dengan jelas mengingat warna dan bentuk sandal jepitnya dan di mana saya menyembunyikannya.

ltu cuma soal sandal jepit. Bagaimana dengan dosa dan kesalahan saya yang lain? Lelah, sungguh saya teramat lelah karena mata ini bagaikan sebuah rekaman yang terus-menerus diputar ulang untuk mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah saya Iakukan. Kalaulah soal sandal jepit Pak Ustaz saja sudah sedemikian membuat saya lelah karena terus-menerus merasa dihantui perasaan bersalah dan juga ketakutan seandainya Pak Ustaz tidak pernah ridha terhadap anak yang menyembunyikannya, bagaimana dengan ratusan, bahkan ribuan orang lain yang juga pernah bersinggungan dengan saya, pernah merasa sakit hati oleh lidah saya, pernah terhina oleh tatapan saya, pernah terpukul oleh sikap saya?

Tuhan, bantu hamba-Mu agar senantiasa kuat dan menjadikan semua rekaman peristiwa masa lalu itu sebagai pelajaran berharga. Agar diri yang lemah ini tak terus-menerus berbuat salah, padahal mengingat yang sudah berlalu pun sungguh teramat melelahkan.

Semoga saja Pak Ustaz ridha dan memaafkan saya, meski mungkin ia tak pernah tahu persis anak yang menyembunyikan sandal jepitnya.

Last Updated on Thursday, 22 May 2008 17:37
 
We have 7 guests online

Parent Articles

Istighfar dan Taubat sebagai pembuka pintu rizki Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian ... READMORE

More in: Orang Tua

Teacher Articles

Created By. Mukarrom, M.Pd.I Seperti biasanya, setiap subuh selalu ada tausiyah agama yang disampaikan oleh ustadz-ustadz di sebuah stasiun televisi swasta, ... READMORE

More in: Guru

Extrakurikuler

Setelah mengikuti English Spelling Contest di IGM, kali ini siswa siswi SDIT Alfurqon ikutan English Written Competition yang diadakan oleh ... READMORE

More in: Extrakurikuler