Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 335
Web Links : 140
Content View Hits : 801706
| Temanku dari Sabang sampai Merauke |
|
|
| Cerita |
| Written by Mukarrom |
| Thursday, 03 June 2010 08:00 |
|
“Om, terima kasih ya,†ucap Fira kepada bapak yang setiap hari menjemput dan mengantarnya ke sekolah. Fira pun bergegas ingin bertemu dengan ibunya, “Assalamu'aikum, Bu, Fira pulang,†“Wa'alaikum salam,†sahut ibu. Fira melepaskan sepatunya dan meletakkan ke rak sepatu yang berada di samping pintu. Setelah itu, dia langsung menemui ibunya yang sedang menonton tv di ruang keluarga. Tidak disangka ternyata selain ada ibu, ayah juga ada di rumah. Fira langsung menyalami mereka, “Ayah sakit ya? Tidak biasanya pulang jam 2 siang,†kata Fira kepada ayahnya.
 “Oh, bukan, ada yang ingin ayah bicarakan dengan Fira,†sahut ayah. “Apa,Yah?,†“Tapi, sebelum Ayah cerita sesuatu ke Fira, Ayah mau dengar cerita Fira, sepertinya Fira ingin menceritakan sesuatu kepada ayah. Ayah lihat muka Fira berseri-seri, pasti ada sesuatu yang menyenangkan di sekolah ya?†“Iya, Yah. Tadi waktu di sekolah, Bunda (panggilan untuk guru) membentuk empat kelompok. Setiap kelompok diberi tugas yang berbeda. Kelompok Fira ternyata mampu menyelesaikan tugas itu dengan baik dan cepat sehingga Fira dan teman kelompok Fira dapat hadiah permen dari Bunda, sedangkan teman-teman kelompok lain dapat hadiah, bernyanyi di depan kelas. Ketika teman-teman bernyanyi, kami menjadi pengiring lagu yang mereka nyanyikan sambil bertepuk tangan. Fira sangat senang sekolah di SDIT Al Furqon, Yahâ€. Cerita Fira kepada ayahnya. “Wah, ternyata Fira dapat hadiah dari Bunda ya, Ayah senang kalau Fira bisa mengikuti pelajaran di sekolah, capek ayah hilang kalau melihat Fira senang,†sambil menghela nafas ayah Fira melanjutkan ucapannya, “Fira, ada sesuatu yang ingin ayah tanyakan ke Fira, Fira betah tidak tinggal di Palembang?†“Betah dong, Yah, teman Fira kan sudah banyak di sini. Memangnya ada apa, Yah?†tanya Fira kepada ayahnya. “Kemarin kan Ayah sudah cerita ke Fira bahwa Ayah dipercaya oleh pimpinan Ayah untuk naik jabatan. Karena kenaikan itu, Ayah harus pindah tugas ke tempat lain. Ayah diminta pindah secepatnya, kalau bisa minggu depan sudah melapor ke tempat ayah bertugas di Makasar,†cerita ayah ke Fira. Muka Fira yang berseri-seri, tiba-tiba berubah sedih mendengar penjelasan ayahnya. “Ayah, kalau Ayah pindah bagaimana dengan Fira? Ayah bekerja di dekat Fira saja, Fira masih susah bertemu Ayah. Pagi Ayah pergi, malam Ayah baru pulang. Bagaimana bila Ayah bekerja di Makasar? Bisa-bisa Fira ketemu dengan ayah hanya satu bulan sekali, Fira tidak mau,†kata Fira sambil meneteskan air matanya, takut ditinggalkan oleh ayahnya. “Cup-cup, sudah jangan menangis,†ayah membujuk Fira sambil membelai-belainya. “Ayah punya rencana tentang kepindahan ini. Ayah tidak mungkin meninggalkan anak manis Ayah, tetapi kita tidak akan bertemu selama satu bulan ini, karena tidak mungkin Fira ikut ayah. Sebentar lagi mau naik kelas, jadi Fira selesaikan sekolahnya hingga menerima raport. Setelah itu, Fira ikut ke Makasar. Bagaimana, Cantik ?†kata ayah Fira sambil memeluk Fira yang masih sedih. Beberapa saat kemudian, setelah mendengar penjelasan ayahnya, Fira berkata pelan, “Iya, Yah. Fira mau.†Ayah tersenyum melihat putri semata wayangnya. Setelah pembicaraan tersebut, Fira masuk ke kamar. Ia berganti pakaian. Sambil menunggu waktu Ashar, Fira mengerjakan PR matematika yang diberikan Bunda. Satu per satu soal dikerjakannya dengan teliti hingga PR yang diberikan tadi selesai. Tak lama kemudian, suara adzan berkumandang. Fira mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Ashar. Setelah sholat, Fira berdo'a. Ketika mengucapkan kalimat robbana zolamna, dia teringat dengan temannya Rama yang selalu berteriak ketika mengucapkan kalimat tersebut. Fira teringat akan kepindahannya ke Makasar. Dia sedih. Setelah mendengar penjelasan dari ayah Fira siang tadi, muka Fira tidak lagi terlihat berseri. Mukanya selalu cemberut. Keesokan harinya, Fira kembali bersekolah. Ada yang berubah dengan kesehariannya di sekolah, senyumnya yang manis dengan tutur sapa yang sopan terhadap teman dan gurunya tidak terlihat lagi. Senyumnya hilang ditutupi muka cemberutnya. Dia bergegas menuju ke tempat duduk dan melipat tangan untuk menutupi mukanya. Bel berbunyi. Fira berbaris di depan kelas untuk mengulangi pelajaran dan hafalannya. Dia sangat lesu, suaranya tidak senyaring sebelumnya. Tingkah laku Fira yang demikian ternyata mengusik pikiran bundanya. Ketika bel istirahat berbunyi, bunda Nisda mendekati Fira yang sedang menyendiri di pojok kelas sambil melihat foto teman-temannya. “Fotonya bagus ya,†pancing bunda kepada Fira. “Oh, Bunda. Iyalah, Bun,†sahut Fira sambil terkejut. “Sepertinya ada yang sedang Fira pikirkan?Dari pagi tadi sampai sekarang, Bunda tidak melihat Fira yang ceria, Fira yang lincah. Kalau boleh Bunda tahu, sebenarnya ada apa?†pancing bunda yang penasaran. “Ah, tidak ada apa-apa kok, Bunda,†sahut Fira. “Kalau tidak ada apa-apa alhamdulillah, tetapi kalau ada Bunda mau loh mendengar cerita Fira.†Beberapa menit kemudian, Fira bercerita kepada bundanya. “Begini Bunda, karena kerjaan Ayah bagus, Ayah dinaikkan pangkat,†“Bagus dong, berarti banyak orang yang percaya dengan ayah Fira,†sahut bunda. “Tapi Bunda, karena kenaikan itu Ayah harus pindah tugas ke Makasar. Kalau Ayah pindah, Fira harus ikut juga. Bagaimana dengan teman-teman Fira, Dea, Zahra, Ajeng, Risya, dan Sonia. Fira pasti tidak akan ketemu mereka lagi. Rencananya setelah bagi raport, kami ingin jalan-jalan bersama. Sepertinya rencana itu gagal,†keluh Fira. “Fira, Fira tahu tidak kisah Fira mirip dengan Bunda, Ayah Bunda juga suka berpindah-pindah tugas. Seingat Bunda, Bunda telah 5 kali pindah, dari kelas 4 SD hingga kelas 2 SMA. Bunda hanya mengenal teman Bunda selama 2 tahun. Saat itu Bunda kesal dengan pekerjaan Ayah Bunda dan tidak terima dengan kepindahan tersebut. Beberapa tahun kemudian, Bunda tidak pernah pindah lagi. Bunda merasakan manfaat berpindah tempat tinggal. Ternyata Bunda memiliki teman dari Sabang sampai Merauke. Ketika Bunda tersesat di kota Surabaya, Bunda kebingungan karena alamat hilang, uang habis, nomor telepon hilang. Tiba-tiba Bunda dipanggil oleh orang, ternyata teman Bunda waktu SMP. Dia mengajak Bunda jalan-jalan hingga mengantar Bunda ke tempat tujuan. Masih ada peristiwa yang membuat Bunda menyesali kemarahan Bunda terhadap Ayah Bunda,†cerita bunda Nisda. “Oh, gitu ya, Bunda. Dengan sering pindah tempat, maka semakin banyak teman kita. Fira tenang sekarang. Terima kasih Bunda atas nasihatnya,†kata Fira. â€Jangan lupa, Fira harus meninggalkan kesan baik terhadap teman-teman agar mereka akan selalu ingat dengan kebaikan Fira,†tegas bunda Nisda. Sesaat kemudian, terdengar bunyi lagu yang berasal dari hp bunda Nisda, “Maaf ya, Fira ada telepon dari teman Bunda di Sulawesi. Bunda tinggal dulu ya.†Setelah percakapan tersebut, Fira kembali semangat. Keesokan harinya, dia membawa kamera untuk mengabadikan foto teman, guru, dan sekolahnya. Dia meminta alamat dan nomor telepon mereka. Ketika menjelang libur sekolah, Fira mengumpulkan teman-temannya di rumah untuk mengucapkan salam perpisahan. Dalam perpisahan tersebut, Fira meminta teman-temannya untuk tidak melupakan persahabatan mereka. Fira berjanji dia ingin berkunjung ke Palembang. |


