Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 334
Web Links : 140
Content View Hits : 799407
| Jangan Marah |
|
|
| Artikel |
| Written by Fitra Diana |
| Sunday, 08 November 2009 21:02 |
|
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang mampu menahan Amarah, padahal ia sanggup melampiaskannya. Maka Allah akan memuliakannya atas seluruh makhluq-makhluq dan memilihkan baginya para bidadari-bidadari hingga ia bisa memilih sebagai pasangan sekehendak hatinya†Pada hakekatnya kemarahan adalah sebuah karunia yang indah. Sifat tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak ciri kesempurnaan manusia yang memiliki dua point utama; energi syahwat dan energi emosi. Energi syahwat adalah kekuatan yang lahir dari gabungan segenap keinginan yang berpuncak pada pemenuhan kebutuhan diri, baik itu berbentuk materi, fasilitas kehidupan, popularitas, atau bahkan kebutuhan biologis. Jika melampaui batas maka ia disebut nafsu. Jika nafsu mengangkara maka ia akan berbahaya, karena itulah Imam Besar Asy-Syafi’i mengatakan dengan lugas bahwa “jiwa yang tidak disibukkan dengan kebaikan maka ia akan disibukkan oleh kebathilan.†Pada dasarnya emosi kemarahan adalah proteksi yang akan melindungi diri dari ancaman pihak luar. Atau upaya-upaya yang coba-coba merenggut kesenangan jiwa tadi. Namun jika energi dahsyat ini salah dalam mempergunakannya, tak ayal sebuah permasalahan sepele dapat menjadi bongkah bara api dan membuahkan penyesalan setelahnya. Itulah dua kekuatan dahsyat yang kadang bertempur dan saling tarik menarik. Atau mungkin malah bekerjasama dalam satu gumpal darah bernama hati yang sangat mudah terbolak-balik dan berubah arah. Karena itu diciptalah akal sebagai penengah, sehingga tercipta melaluinya hubungan yang baik dengan sang rohani yang berpungsi sebagai filter hati untuk kemudian lahirlah bening-bening steril yang mengejahwantah dalam perangai dan akhlaq sehari-hari. Imam Syafii bersyair: “Maafku bertebaran dan tak seorang pun kugauli dengan kedengkian terasa nyaman dan jiwaku tenang dari segala bara permusuhan†Seorang sahabat datang menemui Rasulullah SAW dengan satu permintaan “Nasehati aku wahai Rasulâ€, lalu dengan penuh kearifan dan kemantapan sebuah kalimat singkat yang berhikmah dahsyat beliau sabdakan dari lidahnya yang mulia “Jangan marahâ€. Rasa penasaran pun menggemuruh dalam dada sang sahabat, sehingga permintaan tsb ia ulangi kedua bahkan hingga ketiga kalinya, namun kalimat pendek bermakna tinggi itu tetap setia meluncur dalam sabda beliau “Jangan marahâ€. Larangan di atas adalah sebuah deskripsi kedua dari implikasi kemarahan. Sungguh kemarahan tak lagi bernilai karunia penyempurna, jika wujudnya telah menjelma dalam dengusan setan yang membara, dalam tatapan merah Iblis yang menyala, atau dalam tingkah yang penuh angkara. Jika itu yang terjadi maka bersegeralah memadamkannya dengan berta’awudz kepada Allah, lalu berwudhu, atau sekedar dengan merubah posisi yang semula berdiri kemudian duduk, yang semula duduk kemudian berbaring. Sesungguhnya sebuah kemarahan akan bernilai ibadah, jika ia menjadi bagian dari ketegasan dalam menunaikan amar ma’ruf nahi munkar, menjadi cerminan dari ketinggian izzah atau kemuliaan agama Islam, dan menjadi pilar utama dalam memisahkan antara hak dengan kebathilan. Sebab itu jualah, Rasulullah saw menegaskan dalam sebuah sabdanya “Kalau seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri !!, pastilah akan kupotong juga tangannyaâ€. Itulah kemarahan yang baik, ia hanya berhak diungkapkan di atas landasan syariat “Jika engkau melihat kemungkaran maka ubahlah dengan kekuatan tanganmu. Jika engkau tak mampu, maka ubahlah dengan lidahmu. Dan jika dengan itupun engkau tak kuasa maka ubahlah dengan hatimu, dan itu adalah selemah-lemahnya imanâ€. Sesungguhnya Rasulullah SAW jika melihat Aisyah cemberut marah, beliau mencubit hidungnya seraya berkata “Wahai Uwaisy (Aisyah yang imut) ucapkanlah “Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad ampunilah dosaku, enyahkanlah murka dari hatiku, dan selamatkanlah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkanâ€. Tak ada yang salah dengan kemarahan dan ambisi , kecuali jika ia memasuki jiwa yang buruk dan lemahâ€.
SUMBER : Abdi Pemi Karyanto L,c |
| Last Updated on Sunday, 08 November 2009 21:19 |


