Kurs Valuta Asing

Konversi 

ke

  

Statistics

Members : 5
Content : 334
Web Links : 140
Content View Hits : 799429
Tanaman tanpa tanah Print E-mail
Siswa
Monday, 06 February 2006 18:08

 

Pertumbuhan kota kini semakin pesat. Lahan-lahan pertanian banyak yang telah berubah menjadi gedung dan bangunan-bangunan baru. Ruang untuk bercocok tanam pun semakin sempit dan mahal. Namun perkembangan teknologi telah memungkinkan orang bercocok tanam tidak di atas lahan tanah. Rumah tanpa halaman atau pekarangan pun masih bisa  menyalurkan hobi bertanamnya. Bahkan dengan pemahaman yang benar, teknologi bercocok tanam ini dapat memberikan pengertian pada anak-anak tentang prinsip bertanam. 

 Seperti sudah diketahui, bertanam biasanya dilakukan di atas lahan tanah. Bibit, biji, atau benih tanaman dimasukkan ke dalam tanah dan kita tinggal rutin menyiram. Akhirnya tanaman tumbuh tinggi. Lalu bagaimana dengan bertanam tanpa tanah? 

 Secara prinsip, bertanam merupakan kegiatan memberikan nutrisi bagi tanaman. Nutrisi ini terdiri dari berbagai unsure mineral yang dibutuhkan tanaman. Namun jumlah nutrisi ini hanya sekitar 10 persen dari kebutuhan tanaman. Selebihnya tanaman banyak membutuhkan air. Dengan prinsip ini, maka bertanam bisa dilakukan dengan menggunakan media apa pun selain tanah. Asal, kebutuhan tanaman terhadap nutrisi dipenuhi. Dengan prinsip ini, kitapun bisa mengenal bertanam secara hidroponik. 

 Kata hidroponik berasal dari istilah hydro yang berarti air dan ponics yang berarti pengerjaan. Jadi hidroponik secara harfiah mengandung arti pengerjaan dengan air. Istilah ini digunakan sebagai cara bercocok tanam alternatif di luar cara konvensional yang menggunakan tanah. 

 Istilah hidroponik diperkenalkan pertama kali pada tahun 1936 oleh WF Gericke. Ahli budidaya pertanian di Universitas California , AS ini berhasil rncnumbuhkan tanaman tomat setinggi 3 meter yang sarat dengan buah-buahnya yang segar yang ditanam di atas air. 

 Temuan ini membuka lembaran baru bagi kegiatan budidaya pertanian yang lebih berkualitas. Dengan teknologi ini kualitas basil budidaya tanaman dapat ditingkatkan, begitu juga dengan jumlah hasil panennya menjadi berlimpah. Kebutuhan manusia terhadap bahan makanan pun dapat terpenuhi secara lebih mudah dibandingkan dengan budidaya secara korvensional. 

 Pemanfaatan teknologi hidroponik pun kemudian menyebar luas. Pada tahun 1950, Jepang yang baru saja dikalahkan dalam perang dunia II, melancarkan gerakan bercocok tanam secara hidroponik secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan sayuran dan buah-buahan segar. Di Indonesia sendiri, budidaya hidroponik mulai ramai dilakukan sekitar tahun 1980. 

 Secara prinsip, teknik hidroponik tidak sulit diterapkan. Media tanah bisa diganti dengan menggunakan air, passir atau bahan porous lainnya. Bahan porous digunakan karena lentur, berongga dan cukup kuat menyangga batang tanaman. Bahan-hahan porous ini diantaranya arang sekam padi, serbuk sabut kelapa, gambut, pecahan bata atau genteng, zeolit, dan rockwool. 

 Untuk urutan teknik bertanam tidak ada bedanya dengan bertanam di atas tanah. Sedangkan untuk mengganti mineral atau nutrisi yang dibutuhkan tanaman, bisa dibeli di toko tanaman. Untuk mendekatkan anak-anak dengan kegiatan bertanam, kita dapat memberikan contoh dengan menumbuhkan biji kacang hijau di atas kapas yang dibasahi. (wrm)

Last Updated on Tuesday, 21 March 2006 19:48
 
We have 3 guests online

Parent Articles

Istighfar dan Taubat sebagai pembuka pintu rizki Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian ... READMORE

More in: Orang Tua

Teacher Articles

Created By. Mukarrom, M.Pd.I Seperti biasanya, setiap subuh selalu ada tausiyah agama yang disampaikan oleh ustadz-ustadz di sebuah stasiun televisi swasta, ... READMORE

More in: Guru

Extrakurikuler

Setelah mengikuti English Spelling Contest di IGM, kali ini siswa siswi SDIT Alfurqon ikutan English Written Competition yang diadakan oleh ... READMORE

More in: Extrakurikuler