Kurs Valuta Asing

Konversi 

ke

  

Statistics

Members : 5
Content : 311
Web Links : 140
Content View Hits : 390344
Al-Khansa Binti Amru Ummu Syuhada Print E-mail
Siswa
Friday, 08 December 2006 16:05

Wanita itu sudah tua, namun semangat juangannya masih tetap menyala-nyala seperti wanita muda. Setiap tutur katanya selalu menjadi pendorong bagi orang-orang di sekitarnya. Maklumlah, ia seorang penyair dua zaman. Tidak jarang ia bercakap-cakap dalam bentuk syair. Al-Khanza Binti Amru, demikian nama wanita itu.

Setelah memeluk Islam, keberanian dan kepandaiannya bersyair digunakan untuk menyemangati para pejuang Islam. Kemampuannya bersyair juga diajarkan kepada keempat putranya. Mereka dididik dengan semangat berani berjuang dalam peperangan. Keempat putranya kemudian diserahkan untuk berjuang demi kemenangan peperangan Islam.
Pada tahun 14 Hijrah, Khalifah Umar bin Khattab mempersiapkan satu pasukan tempur untuk menghadapi Persia . Semua umat Islam dari berbagai qabilah di kerahkan untuk berperang, sehingga terkumpul sebanyak 41. 000 pejuang. Tidak ketinggalan, al-Khansa dan keempat putranya, mereka juga ikut andil dalam “perang suci” itu. Al-Khansa mendapat tugas merawat korban perang dan memberikan semangat juang para tentara Islam.
Sebelum pergi ke medan perang, Al-Khansa berpesan kepada keempat putranya, “Wahai anak-anakku! Kamu telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kamu sekalian adalah putra-putra dari seorang lelaki dan seorang wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan saudaramu yang lain. Aku tidak pernah merendahkan keturunan kamu. Dan, aku tidak pernah mengubah persahabatan kamu. Kamu telah mengerti pahala yang disediakan oleh Allah kepada kaum Muslimin yang memerangi kaum kafir. Ketahuilah, bahwa kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang fana.”
Kemudian al-Khansa membacakan ayat, “Wahai orang yang beriman! Sabarlah, dan sempurnakan kesabaran itu. Teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlaah kepada Allah, semoga menjadi orang yang beruntung” (Ali Imran: 200). Merekapun tertunduk khusyu’ mendengarkan nasehat ibunda.
“Jika kalian bangun esok pagi dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang dengan musuh-musuh Allah. Gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedah bergejolak, masuklah kamu ke dalamnya. Dan, dapatkanlah puncaknya ketika terjadi laga pertempuran, semoga kamu akan berjaya mendapat balasan di kampung yaang aabadi kelak”, tutur al-Khansa menasehati keempat anaknya.
Pada esok harinya, menjelang shalat Subuh, semua tentara Mujahidin sudah berada di tikar masing-masing untuk mengerjakan perintah Allah. Setelah shalat Subuh selesai, Sa’ad bin Abi Waqas, panglima besar Mujahidin memberikan arahan agar bersiap-siap. Pasukan Mujahidin berjumlah 41.000 orang yang akan menghadapi tentara Persia yang berjumlah 200.000 orang.
Di tengah perang yang sedang berkecamuk, salah seorang putra al-Khansa menyeru, “Hai saudara-saudaraku! Ibu tua kita yang banyak pengalaman itu telah memanggil kita semalam dan memberi nasehat. Semua mutiara yang keluar dari mulutnya berfaedah. Insya Allah akan kita buktikan sebentar lagi!” Ia lantas maju menerjang setiap musuh yang menghadang.
Anak kedua mengikuti dengan semangat berapi-api. Ia menyeru, “Demi Allah! Kami tidak akan melanggar nasehat ibu tua kami. Nasehatnya wajib ditaati dengan ikhlas dan rela hati. Segeralah bertempur, segeralah bertarung, menggempur musuh-musuh hingga kau lihat keluarga Kaisar musnah!”
Anak ketiga segera melompat seraya menyeru, “Sungguh, ibu tua kami kuat cita-citanya! Tetap tegas dan tidak pernah goncang. Beliau berkata pada kita agar bertindak cakap dan berakal cemerlang. Itulah nasehat seorang ibu tua yang paling berat terhadap anak-anaknya. Mari, segera memasuki medan tempur. Segeralah untuk mempertahankan diri. Dapatkan kemenangan yang bakal membawa kegembiraan dalam hati, atau kematian yang bakal mewarisi kehidupan abadi!”
Anak keempat pun langsung melompat menghunus pedang. Sambil menyemangati diri, ia menyeru, “Aku bukanlah putra Khansa! Aku bukanlah anak jantan dan bukan pula karena ‘Amru yang pujiannya sudah lama terkenal, kalau aku tidak membuat tentara asing itu terjerembab ke jurang bahaya, dan mati oleh senjataku!”
Kemudian perang meletus. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Tentara Persia kalah dan banyak yang lari ke sungai. Namun, oleh tentara Mujahidin terus diserang dengan anak panah, hingga warna air sungai berubah menjadi merah. Dari 200.000 tentara Persia , hanya sedikit saja yang dapat menyelamatkan diri.
Umat Islam lega. Mereka berkumpul dan menghitung jumlah para Syuhada. Tercatat kurang lebih sebanyak 7.000 syuhada yang beruntung dalam perang di medan Kadisia itu. Di antara para Syuhada itu, terdapat empat orang yang tidak lain adalah putra-putra al-Khansa.
Mendengar berita itu, al-Khansa tetap tenang dan hatinya tidak guncang. Al-Khansa terus memuji Allah sambil berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka. Aku mengharapkan dari Tuhanku agar Dia mengumpulkan aku dengan mereka di tempat tinggal yang kekal dengan rakhmat-Nya.” []   
Last Updated on Friday, 08 December 2006 16:08
 
We have 7 guests online

Parent Articles

Istighfar dan Taubat sebagai pembuka pintu rizki Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian ... READMORE

More in: Orang Tua

Teacher Articles

Trik menghadapi Ujian Tidak terasa Tes Hasil Belajar (THB) kedua telah di depan mata. Saatnya ananda mengingat kembali pelajaran yang ananda pe... READMORE

More in: Guru

Extrakurikuler

Setelah mengikuti English Spelling Contest di IGM, kali ini siswa siswi SDIT Alfurqon ikutan English Written Competition yang diadakan oleh ... READMORE

More in: Extrakurikuler