Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 335
Web Links : 140
Content View Hits : 801693
| Keluarga kunci kemajuan Indonesia |
|
|
| Guru |
| Thursday, 31 August 2006 16:25 |
|
Pada tahun 70-an dunia pendidikan Indonesia mengalami keemasan, dengan adanya beberapa negara tetangga yang membutuhkan para pendidik untuk mendidik di negaranya, dengan harapan ilmu-ilmu yang dibawa oleh si guru dapat membantu para peserta didik di negara tersebut dalam mengatasi problem-problem pada saat itu. Sumber Daya Manusia yang ada hanya memiliki pengetahuan yang seadanya, merupakan salah satu alasan negara tersebut memanggil atau mengundang para guru dari
Setelah bertahun-tahun keinginan negara tersebut dapat terwujud, dibukikan dengan munculnya satu persatu ilmuwan-ilmuwan yang dapat membantu pemerintahan pada saat itu dalam mengatasi masalah pendidikan, perindustrian, perekonomian, dan lain-lain. Keberhasilan tersebut tentunya suatu keberhasilan yang penuh perjuangan, baik materi pikiran dan waktu. Setelah pelajar-pelajar yang diikutsertakan program-program pemerintah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia, baik di dalam negeri dengan mendatangkan pengajar dari negera tetangga (
Pemerintahan tersebut memulai program pembangunan semua sektor dengan mengikut sertakan atau melibatkan pelajar-pelajar yang telah lulus dari Universitas-Universitas dalam maupun luar negeri .Satu persatu program yang telah direncakan oleh pemerintah tersebut telah membuhkan hasilnya, dan satu persatu proyek-proyek besar telah ditangani oleh para ilmuwan dalam negeri, yang sebelumnya keterlibatan ilmuwan-ilmuwan dalam negeri 50%, lambat laun keterlibatan ilmuwan dalam negeri menjadi 100%, negara tersebut tidak lagi membutuhkan para ilmuwan yang mereka butuhkan hanya insvestor, dengan tidak adanya ketergantungan yang berlebihan dengan negara yang memiliki SDM, maka pengeluaran pembiayaan dalam pembanguan suatu proyek dan pemeliharaan suatu program dapat diminimalisir dan dana yang lebih dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengembangakn program atau proyek yang lain. Dalam hitungan tahun negara tersebut menjadi salah satu negara yang mampu berkompetisi dengan negara kita, pada saat ini negara yang sebelumnya mengundang pendidik-pendidik dari negara kita telah menjadi negara yang menjadi tempat pelajar Indonesia untuk memperdalam ilmu pengetahuann dan menjadi tempat kita untuk mencari “sesuap nasi†dengan menjadi TKI atau TKW, tentunya bila kita melihat potensi SDM dan SDA yang kita miliki kita tentu dapat menjadi negara adidaya pada saat ini, bila kita melakukan program-program yang telah dilakukan oleh negara Malaysia untuk kawasan Asia Tenggara, Jepang untuk dunia. Bila kita melihat perjuangan yang telah dilakukan oleh negara-negara tersebut, dengan perencanaan yang bertahap dan matang, tentunya perencanaan tersebut  dapat juga kita lakukan dan “mungkin†negara kita dapat melebihi apa yang ingin dicapai oleh Malaysia dan Singapura karena SDM yang ada telah memadai dan dapat berkompetisi dengan negara barat pada saat itu, tentunya kita ingat terbentuknya suatu organisasi Non-Blok yang diprakarsai oleh Presiden Soekarnoe, tetapi mengapa sampai sekarang pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia masih berada di bawah negara tersebut, untuk saat ini saja pertumbuhan negara Vietnam yang beberapa tahun yang lalu masih mengalami peperangan dengan Amerika, telah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, tentunya di alam hati kecil kita selalu bertanya-tanya, mengapa ? ? ?. Bila pertanyan tersebut kita lontarkan pada “temanâ€Â kita, jawabannya “pastiâ€Â, negara kita tidak pernah memperhatikan pendidikan baik kualitas materi pendidikan, kualitas kurikulum, kualitas pendidik, jawaban tersebut tidak semuanya benar. Negara kita telah melakukan program yang sama dengan negara-negara yang hanya hitungan tahun dapat “mengembangkan sayapnyaâ€Â. Beberapa pelajar kita ada yang dikirim ke Mesir, Arab Saui, Kuwait, Amerika, Inggris, Belanda, Ausralia dan beberapa negara yanga memiliki universita-universitas yang ternama. Namun kesalan itu bukanlah terletak pada sedikitnya lulusan yang berkualitas diÂÂ
Tidak adanya pembentukan karakter pada anak
Negara Singapura pada tahun 1959 tercatat sebagai negara terkotor di Asia Timur dan tidak memiliki sedikitpun Sumber Daya Alam (SDA) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, walaupun semua dataran Singapura dijadikan lahan pertanian pada saat itu, dalam sebuah lelucon yang pernah diucapkan mantan presiden Ir Soekarno, satu penduduk propinsi buang air kecil, dapat menenggelamkan negara Singapura. Namun ucapan itu tidak mungkin dapat terlontar lagi, karena beberapa bidang strategis di bidang perekonomian telah dikuasai oleh Singapura. Lee Kuan You adalah salah satu pelopor dalam pengembangan negara Singapura hingga menjadi sekarang ini. Dia menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk menuju cita-citanya, untuk itu hal-hal yang berkaitan dengan hasil pendidikan sangat diperhatikannya, seperti halnya, setiap anak kecil tidak boleh memakai anting, pakaian-pakaian yang wah, memiliki peralatan elektronik sendiri, pacaran dan berduaan laki-laki dan perempuan yang masih sekolah dan lain-lain, dengan harapan si anak dapat dibiasakan untuk mandiri, tidak bangga dengan kekayaan orang tuanya, berusaha untuk mendapatkannya dengan kemampuannya sendiri, bukan dibelikan oleh orang. Sejak dini anak-anak telah diajarkan untuk menjadi seorang yang tidak membebani orang tuanya. Tetapi bagaimana peraturan tersebut diterapkan di
Bila kita terus menunggu dibuat peraturan oleh pemerintah seperti yang telah dilakukan oleh negara Jepang, Korea Selatan, Vietnam dan Singapura, cita-cita untuk menjadikan Indonesia yang maju tidak akan terwujud. Apa yang harus kita lakukan adalah dengan menerapkan peraturan tersebut dalam keluarga kita, sesuai dengan firman Allah yang berbunyi “ Kuu anfusakum wa ahlikum naaro †yang artinya “jagalah dirimu dan kelurgamu dari api nerakaâ€Â. Pertama-tama tugas yang harus kita lakukan adalah memantapkan akidah kita dan anggota keluarga kita terhadap Allah, sesuai dengan langkah nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam di dunia, dengan harapan pada setiap individu ditanamkan bahwa Allah itu melihat apa yang kita perbuat, apa itu baik maupun jelek, di tempat terbuka maupun tersembunyi, dan perbuatan kecil maupun besar. Kedua, memotivasi diri dan anggota keluarga untuk menjadi individu yang mempunyai potensi, berguna dimanapun berada, dan tentunya tidak menjadi beban bagi keluarga. Menjadi seorang yang menciptakan pesawat bukan penikmat pesawat, menjadi seorang yang memiliki restoran dimana-mana bukan menjadi penikmat makanan lezat dan mahal, menjadi seorang penemu bukan menjadi seorang yang menikmati ilmu, seperti peristiwa yang pernah terjadi di dunia pertambangan Sumatera Selatan, untuk menghentikan semburan minyak harus minta tenaga ahli dari luar negeri, tentunya untuk mendatangkan seorang saja diperlukan uang yang tidak sedikit. Ketiga, menerapkan prinsip hidup sederhana dalam keluarga. Saya pernah mendengar perbincangan antara generasi tua, yang inti pembicaraan tersebut adalah lulusan sarjana pada generasi sekarang sama seperti lulusan SD pada saat itu, saya pun bertanya pada bapak tersebut, jawabannya adalah “karena pada saat ini anak-anaknya terbiasa dengan kehidupan yang praktis atau serba cepat atau serba singkat dan kemewahanâ€Â. Di beberapa sekolah saya sering menemukan anak SD telah memiliki HP, anak SD telah diberi uang jajan yang banyak, dan anak SD yang memiliki pakaian yang bukan seharusnya ia pakai. Bila kita membandingkan dengan apa yang telah saya jelaskan sebelumnya, di negara Singapura pemakaian elektronik hanya diperbolehkan bila ia telah memiliki kemampuan untuk membelinya sendiri, bukan seperti pada kebiasaan negara kita, takut dibicarakan oleh orang lain, orang tua yang tidak sayang, orang tua yang pelit, maka semua kebutuhan anaknya dipenuhi. Bila beberapa langkah yang telah saya kemukakan di atas diterapkan oleh setiap keluarga, Insya Allah
|
| Last Updated on Thursday, 31 August 2006 16:32 |


