Kurs Valuta Asing

Konversi 

ke

  

Statistics

Members : 5
Content : 311
Web Links : 140
Content View Hits : 390326
MEMBANGUN KARAKTER ANAK USIA DINI DI PGIT DAN TKIT AL FURQON (1) Print E-mail
Guru
Written by Salamah   
Wednesday, 11 November 2009 18:31

Proses globalisasi selalu berdampak pada dunia pendidikan, termasuk Indonesia.  Pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, beriman dan bertakwa, berakal dan bernalar serta berbudaya.  Berkaitan dengan hal tersebut maka Playgroup dan Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu Al Furqon mempunyai visi dan misi membentuk anak menjadi ahli zikir, fikir, dan ahli ikhtiar.

Dengan mengemban visi dan misi tersebut, maka PGIT dan TKIT Al Furqon berharap bahwa siswa mempunyai kemampuan:

  1. Beriman kepada Allah SWT dan menjalani hidup berpedoman kepada Al Qur’an dan Al Hadits, serta  menteladani  kehidupan Rasullah SAW.
  2. Kemampuan untuk melakukan analisa terhadap situasi, membuat pertimbangan yang masuk akal dan memecahkan              permasalahan baru yang dihadapi.
  3. Kemampuan secara terus menerus belajar pendekatan yang baru, keterampilan-keterampilan baru dan  pengetahuan-pengetahuan baru sesuai dengan kebutuhan perubahan
  4. Kemampuan untuk mengakses berbagai informasi melalui berbagai cara, termausk kemampuan dalam berbahasa lisan dan tertulis, mampu menggunakan teknologi secara baik dan tepat guna
  5. Kemampuan untuk selalu berjuang, berusaha, tidak mudah berputus asa, mandiri dan bersyukur atas berkah dan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada umatnya
  6. Menjalani hidup dengan menggunakan nilai-nilai islami, sehingga kehidupan lebih bermakna.

Pendidikan pra sekolah (play group dan taman kanak-kanak) penting bagi anak karena setengah perkembangan intelektual anak berlangsung sebelum anak berusia 4 tahun.  Menurut Bloom (1964) bahwa perkembangan mental, perkembangan intelegensia, kepribadian dan tingkah laku sosial sangat pesat ketika anak masih berusia dini. Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga. Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya.

Disekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya.

Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Tetapi realitas di masyarakat membuktikan pendidikan di sekolah belum mampu menghasilkan anak didik bekualitas secara keseluruhan, kenyataan ini dapat dicermati dengan banyaknya perilaku kurang terpuji di masyarakat, sebagai contoh merebaknya penggunaan narkoba, perampokan, bunuh diri, pelecehan seksual dan masih banyak lagi. Realitas ini memunculkan anggapan bahwa pendidikan gagal membentuk anak didik berakhlak mulia.


Pembelajaran akhlak dan pembentukan karakter penting sekali ditanamkan pada anak didik sejak usia dini untuk membentuk karakter anak, karena pada usia ini anak mudah sekali meniru apa yang mereka lihat dan dengar. Jika anak tidak dibina dengan pembelajaran akhlak terpuji sedini mungkin, maka pada masa perkembangan anak menuju kedewasaan akan membawa dampak yang lebih fatal lagi dan akan meresahkan masyarakat sekitarnya.

Anak usia dini mempunyai jadwal kematangan berbeda-beda waktunya, maka orang tua dan guru tidak boleh memaksa anak untuk belajar sesuatu apabila anak belum siap (matang). Pada umumnya anak usia ini akan selalu bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan menguji, mampu mengekspesikan diri secara kreatif, tidak dapat disuruh duduk diam selama pelajaran berlangsung. Bagi anak usia dini duduk diam selama jam pelajaran merupakan pekerjaan yang amat berat.

Melihat karakter anak seperti itu, maka pembelajaran yang menarik dan menyenangkan bagi anak-anak adalah yang selalu ”dibungkus” dengan permainan, suasana riang, bernyanyi dan menari. Bukan pendekatan pembelajaran yang penuh dengan tugas-tugas berat.

Waktu yang paling menyenangkan pada usia dini adalah ketika sedang bermain. Kegiatan bermain adalah kegiatan apa saja dalam suasana yang menyenangkan. Menyenangkan adalah kata kunci dalam setiap kegiatan bagi anak. Tanpa suasana yang menyenangkan, kegiatan itu bagi anak tidak berarti apa-apa, walaupun mungkin berbilang mahal. Oleh karena itu, orang tua dan pendidik dalam menciptakan kegiatan belajar, pelatihan atau pembiasaan hendaknya dalam suasana yang menyenangkan. Dengan demikian tidak membebani, tidak memaksa dan tidak menjadikan mereka bersedih hati. Kegiatan yang dilakukan secara spontan, tanpa paksaan, sesuai dengan gerak hati anak, dan mendatangkan kegembiraan harus di ciptakan terus menerus secara bervariasi. Di sela-sela bermain, anak belajar memahami salah benar. Ia juga mulai belajar memahami apa itu adil, jujur, menguasai jiwa, dan menanggalkan egoisme ketika bermain ramai-ramai, dan ia juga dapat belajar berjiwa besar.

Bermain merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak usia dini. Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreatifitas, bahasa, emosi, sosial, nilai, dan sikap hidup.

Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini terbagi dalam tiga tahap, yaitu masa anak lahir sampai 12 bulan, masa toddler (batita) usia 1-3 tahun, dan masa prasekolah 3-6 tahun.

Ada beberapa aspek pembinaan akhlak dan pembentukan karakter yang perlu diterapkan kepada anak usia pra sekolah dalam keluarga dan sekolah, yaitu:
1. Membiasakan Kejujuran
2. Membiasan keadilan
3. Membiasan meminta ijin
4. Membiasakan berbicara dengan baik
5. Membiasakan makan dan minum dengan baik
6. Membiasakan bergaul dengan baik
7. Memberikan kasih sayang
8. Memberikan penghargaan

Metode pembinaan akhlak terhadap anak usia pra sekolah antara lain sebagaiberikut:

  • Selalu mengikutsertakan anak dalam acara-acara keagamaam dan hiburan yang bersifat konstruktif.
  • Membiasakan anak mengucapkan perkataan yang baik dan membiasakan pula berlaku jujur dan tanggung jawab.
  • Memperlihatkan sikap senang kepadanya bila perbuatannya baik dan memperlihatkan sikap tidak setuju bila           perbuatannya salah.
  • Tidak boleh bertengkar di depan mata anak, baik antara suami istri maupun antara orang lain, karena cara seperti ini akan dicontoh oleh anak secara imitatif.
  • Tidak boleh memerintahkan anak berbuat sesuatu yang tidak disanggupinya dan kalau memerintahkan sesuatu  padanya diusahakan supaya ia bisa mengerjakan dengan baik, bukan dengan cara sembrono.
  • Tidak boleh membohongi anak karena cara seperti ini menambah kebingungan anak. Kalaupun dibohongi karena situasi terpaksa,diusahakan agar cara ini tidak dapat diketahuinya, karena bila di ketahui maka anak akan menaruh ketidakpercayaan terhadap orangtuanya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode pembinaan akhlak dan pembentukan karakteruntuk anak usia prasekolah yaitu dengan pembiasaan, adapun contoh dari pembiasan tersebut seperti membiasakan jujur, adil, meminta ijin, berbicara dengan baik, makan dan minum dengan baik, bergaul dengan baik, kasih sayang, memberikan penghargaan, mengikutsertakan anak dalam acara keagamaan.

 
We have 9 guests online

Parent Articles

Istighfar dan Taubat sebagai pembuka pintu rizki Sebagian besar orang menyangka bahwa istighfar dan taubat hanyalah cukup dengan lisan semata. Sebagian ... READMORE

More in: Orang Tua

Teacher Articles

Trik menghadapi Ujian Tidak terasa Tes Hasil Belajar (THB) kedua telah di depan mata. Saatnya ananda mengingat kembali pelajaran yang ananda pe... READMORE

More in: Guru

Extrakurikuler

Setelah mengikuti English Spelling Contest di IGM, kali ini siswa siswi SDIT Alfurqon ikutan English Written Competition yang diadakan oleh ... READMORE

More in: Extrakurikuler