Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 294
Web Links : 140
Content View Hits : 288718
| BERMAIN DALAM PENDIDIKAN ANAK |
|
|
| Guru |
| Written by Salamah |
| Wednesday, 11 November 2009 18:49 |
|
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak.
Jika pengertian bermain dipahami dan sangat kita kuasai, maka kemampuan itu akan berdampak positif pada cara kita dalam membantu proses belajar anak. Pengamatan ketika anak bermain secara aktif maupun pasif, akan banyak membantu memahami jalan pikiran anak, selain itu akan meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Pada saat bermain kita perlu mengetahui saat yang tepat bagi kita untuk melakukan atau menghentikan intervensi. Karena bila tidak memahami secara benar dan tepat, hal itu akan membuat anak frustasi atau tidak kooperatif dan sebaliknya. Dari bahasa tubuh si anak pun kita sudah dapat mengetahui kapan mereka membutuhkan kita untuk melakukan intervensi. Pemahaman tentang bermain juga akan membuka wawasan dan menjernihkan pendapat kita, sehingga akan dapat lebih luwes terhadap kegiatan bermain itu sendiri, dan akibatnya akan mendukung segala aspek perkembangan anak. Yang dimaksudkan adalah kita dapat memberi kesempatan yang lebih banyak kepada anak-anak untuk bereksplorasi, sehingga pemahaman tentang konsep maupun pengertian dasar suatu pengetahuan dapat dipahami oleh anak dengan lebih mudah. Montessori, seorang tokoh pendidikan menekankan bahwa ketika anak bermain, ia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Untuk itu, perencanaan dan persiapan lingkungan belajar anak harus dirancang dengan seksama sehingga segala sesuatu dapat merupakan kesempatan belajar yang sangat menyenangkan bagi anak itu sendiri. Frobel menyatakan bahwa imajinasi merupakan dunia anak. Setiap benda yang dimainkan berfungsi sesuai dengan imajinasi anak. Misalnya, penggaris yang dipegangnya dapat dianggap sebagai pesawat terbang. Ia juga mencipta kotak kubus yang terdiri dari kubus kecil-kecil dan kemudian berkembang menjadi susunan balok yang beraneka bentuk dan ukuran. Yang perlu diperhatikan adalah kita dapat memperlihatkan kepada anak adanya hubungan antara satu balok dengan balok berikutnya. Pada kesempata itu pula anak dapat mempraktekan konsep bahasa, semua itu terjadi pada saat anak bermain. Dalam proses perkembangan anak melalui bermain, kita akan menemukan 2 istilah yang berbeda yaitu Learning resources dan Educational toys and games. Seperti yang dikembangkan oleh Piaget (1961) bahwa terdapat beberapa tahapan intelektual anak yaitu: • Usia 0 – 2 tahun disebut masa sensorimotor • Usia 2 – 7 tahun disebut masa pra-operasional • Usia 7 – 11 tahun disebut masa konkrit operasional • Usia 11 – 14 tahun disebut masa formal operasional Pada kedua masa pertama, panca indera berperan sangat besar. Anak memahami pengertian atau konsep-konsep lewat benda konkrit. Dengan bermain, anak mendapatkan masukan-masukan untuk diproses bersama dengan pengetahuan apa yang dimilikinya Sedangkan Montessori (1966) menyatakan bahwa lingkungan atau alam sekitar yang mengundang anak untuk menyenangi pembelajarannya. Bermain dengan media permainan yang dipersiapkan menjadi penting. Belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Disinilah proses pembelajaran terjadi. Mereka mengambil keputusan, memilih, menentukan, mencipta, memasang, membongkar, mengembalikan, mencoba, mengeluarkan pendapat dan memecahkan masalah, mengerjakan secara tuntas, bekerja sama dengan teman dan mengalami berbagai macam perasaan (Mayke, 1995) Bagaimana sebaiknya peran orang dewasa ketika anak sedang bermain ? Menurut Hughes (1995) menyatakan ada 5 pandangan utama tentang peran kita ketika anak sedang bermain yaitu:
|


