Stories
Temanku dari Sabang sampai Merauke“Om, terima kasih ya,” ucap Fira kepada bapak yang setiap hari menjemput dan mengantarnya ke sekolah. Fira pun bergegas ingin bertemu dengan ibunya, “Assalamu'aikum, Bu, Fira pulang,” “Wa'alaikum salam,” s... READMORE |
|
More in: Cerita |
Kalender Pendidikan
Kalender Akademik SIT Al-Furqon 2010/201PGIT / TKIT Maret 2010 5 : Renang / Gardening 1.3 12 : Renang / Gardening 2.3 15 - 25: Pekan Tematik 19 : Renang / Gardening 3.3 26 : Pameran Petik April 2010 2 : Renang / ... READMORE |
|
More in: Kalender Pendidikan |
Kurs Valuta Asing
Statistics
Members : 5Content : 311
Web Links : 140
Content View Hits : 390304
| NILAI SEBUAH PENGHARGAAN |
|
|
| Orang Tua |
| Written by Agus Priyatmono,S.Pd |
| Saturday, 13 August 2005 18:21 |
|
NILAI SEBUAH PENGHARGAAN Ada sebuah kasus, seorang anak (anggap saja Ari) siswa yang pandai. Ketika mendapat tugas rumah menggambar, ia dengan mudah menyelesaikannya apalagi mempunyai fasilitas yang cukup. Sementara anak lain (anggap saja Ira) siswa yang cukupan dari segi kepandaian. Ketika ia mendapat tugas yang sama ia tidak memiliki kertas gambar dan peralatan gambar. Kemudian ia berusaha mendapatkan kertas itu dengan minta pada temannya dan juga meminjam alat gambar. Ada banyak perlakuan temannya terhadap Ira. Barangkali ketika ia minta kertas, mungkin temannya berkata,      â huh mintaâ¦, beli dongâ¦â sambil pasang muka yang agak kecut. Atau ada yang berkata, âtiap hari minjamâ¦.berusaha punya dongâ atau bahkan ada yang berkata agak menghunjam perasaan, âhuh..kere (jawa : miskin) amat sihâ. Kemungkinan usahanya berhasil juga untuk mendapatkan kertas dan alat gambar. Setelah menyelesaikan iapun mengumpulkan tugasnya begitu juga Ari. Tetapi kenyataan di kelas apa yang terjadi ? Ketika tugas dikumpulkan, setiap tugas mendapat tanggapan dari sang guru. Giliran tugas milik Ira ternyata mendapat tanggapan khusus, barangkali ,â gambar siapa ini, kok kurang ini kurang ituâ , kemudian teman yang lain langsung tertawa.  Bagaimana perasaan Ira ? setelah usahanya dilakukan dengan berbagai halangan dan rintangan ternyata usahanya tetap sia-sia. Hilanglah kepercayaan dirinya. Yah itulah contoh fiktif yang terjadi. Barangkali contoh sebenarnya banyak ragamnya. 2.       Kata â kata : a.       Ketika sang anak memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki, cukup dikatakan : â ada yang lebih tepat lagi ?â atau âhampir benarâ atau âsudah menyenggol sedikitâ atau â aduh⦠sedikit lagiâ atau sejenisnya. b.       Ketika sang anak belum bisa menjawab dengan sempurna barangkali kita beri semangat tertentu seperti âsyukurlah kamu semakin mahirâ, âkemungkinan kamu lupa apa yang kamu bacaâ, âcoba ingat lagiâ, âkamu pasti bisaâ , âRian pasti oke dehâ atau sejenisnya. c.       Atau kita memberikan joke seperti pada iklan kepada sang anak ketika kita akan memberikan soal yang agak sulit seperti âayo kamu pasti bisaâ, âini dulu baru ituâ , â kemudahan setia setiap saatâ dan lain-lain. d.       Pujian yang layak bahkan agak dibuat berlebih sedikit bagi yang memang jawaban soal benar atau sempurna dan dengan gaya agak kocakpun tidak apa-apa sebagai contoh  âwah⦠hebat sekaâ¦liâ , âalhamdulillah jawaban yang sempurnaâ, âmasya Allah, ternyata engkau lebih pintar dari yang ibu dugaâ dan sebagainya. Permainan kata-kata dalam rangka memberikan penghargaan kepada siswa tidak hanya menumbuhkan opetimisme dan percaya diri pada anak tetapi mendatangkan keakraban dan kecairan suasana dalam kelas. 3.       Perlakuan khusus lainnya : a.       Membuat tulisan yel-yel tertentu untuk kelas seperti : kelas 3 A memang okeâ¦, Kelas 5 C Huebat banget, dan lainnya. b.       Membuat tulisan atau poster yang meriah seperti Selamat menempuh ujian : Kami selalu menyertai, Kelasku Kelas Elit dan sebagainya. c.       Memberikan sebutan pada kelompok siswa atau baris bangku siswa seperti kelompok A diberi julukan kelompok Cah (jawa : bocah, anak) Apik, kel. B kelompok Cah Bagus, dan sebagainya. d.       Memberikan kejutan pada siswa yang dapat prestasi terbaik atau acak kepada siswa berupa hadiah, makanan, stiker atau yang lainnya. e.       Meminta kepada para siswa untuk bersama-sama memberikan pujian khusus kepada siswa yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik. f.        Memberikan gelar-gelar yang baik kepada para siswa. g.       Bersama-sama siswa diajak mengucapkan yel tertentu yang membangkitkan semangat dengan cara bergelombang. h.       Menyuruh siswa atau kelompok siswa untuk membuat yel tertentu yang harus diucapkan ketika anggota kelompoknya mendapatkan prestasi yang baik atau dapat menyelesaikan tugas dengan baik. i.        Dan banyak lagi, sesuai dengan kebutuhan dan kreativitas guru dalam hal ini.Â
           Perlakuan khusus ini dapat menumbuhkan persaingan positif pada antar siswa dan menumbuhkan keakraban serta optimisme tiap individu siswa   Kalau dilihat secara unsur formalitas, memang bentuk â bentuk ini tidak umum dan terkesan seperti dolanan (jawa : main-main). Tetapi bila keumuman itu tidak membawa perubahan dan justru kekakuan yang ada maka mengapa tidak hal seperti ini dilakukan. Alangkah senangnya bila kita melihat suasana kelas setiap hari ceria, semua siswa belajar dengan penuh antusias dan optimis tanpa melihat pelajaran matematika, IPA atau KTK atau lainnya. |
| Last Updated on Friday, 11 January 2008 18:58 |


